Jakarta, Sinata.id β Anggota DPR RI, Ateng Sutisna, mendorong percepatan regenerasi petani muda guna menjaga keberlanjutan sektor pertanian, khususnya di Kabupaten Subang yang dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional.
Menurut Ateng, posisi Subang sangat strategis dalam rantai pasok pangan, mulai dari produksi hingga pengolahan beras. Namun, sektor ini kini menghadapi berbagai tekanan, seperti dampak perubahan iklim, keterbatasan teknologi, ketimpangan pasar, hingga persoalan infrastruktur irigasi.
Hal tersebut disampaikan saat dirinya melakukan reses dan berdialog dengan Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia di Subang, Jawa Barat.
Ia menilai persoalan yang dihadapi sektor pertanian bersifat sistemik dan berpotensi memengaruhi stabilitas pangan serta daya beli masyarakat. Salah satu dampaknya terlihat dari kenaikan harga beras premium di Subang yang mendekati Rp15.000 per kilogram, yang turut menekan konsumsi masyarakat.
Selain itu, Ateng menyoroti lemahnya regenerasi petani, terutama dari kalangan muda. Ia menilai rendahnya minat generasi muda bukan semata persoalan kemauan, melainkan karena sektor pertanian belum memberikan jaminan kesejahteraan yang memadai.
Sejumlah tantangan seperti pendapatan yang tidak pasti, risiko gagal panen, fluktuasi harga, keterbatasan modal, hingga sempitnya lahan menjadi faktor penghambat. Kondisi ini juga diperparah dengan pergeseran ekonomi Subang menuju sektor industri.
Mengacu pada data Sensus Pertanian 2023, proporsi petani milenial usia 19β39 tahun masih sekitar 21,93 persen dan berpotensi terus menurun. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini dapat memicu penuaan petani serta melemahnya produktivitas sektor pertanian.
Di sisi lain, industri penggilingan padi di Subang juga menghadapi tantangan. Jumlah penggilingan skala besar dan menengah cenderung menurun, sementara penggilingan kecil meningkat namun masih menggunakan teknologi lama yang kurang efisien.
Ateng menilai modernisasi penggilingan padi menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kualitas beras dan efisiensi produksi. Ia mendorong penggunaan teknologi seperti Rice Milling Unit (RMU) dan color sorter guna meningkatkan daya saing.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia mengusulkan Gerakan Regenerasi Petani Padi Subang dengan pendekatan yang lebih adaptif, serta menempatkan pertanian sebagai profesi modern yang menjanjikan secara ekonomi.
Selain itu, dukungan pembiayaan melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dinilai penting untuk mempercepat transformasi sektor ini. Peran pemerintah juga diperlukan melalui optimalisasi fasilitas pengolahan modern seperti Modern Rice Milling Plant (MRMP) yang dikelola BULOG.
Ateng berharap sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dapat diperkuat agar Subang tetap menjadi penopang utama kebutuhan pangan nasional.
βDengan dukungan yang tepat, generasi muda bisa kembali tertarik ke sektor pertanian, sehingga Subang tidak hanya bertahan, tetapi kembali menjadi tulang punggung pangan nasional,β ujarnya. (A18)
Sumber: Parlementaria









Jadilah yang pertama berkomentar di sini