Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 30 April 2026 |18:09 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15400 (AGM) 15450 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15205 15450 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15112 (PRISCOLIN) 14995 (MM) 15000 (AGM) 15250 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14787 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14762 14490 (MNA) 14500 (PBI) 15000 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
14947 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Pasar cenderung melemah pada beberapa lokasi LOCO
  • Persaingan harga cukup ketat antar bidder
  • Masih terdapat beberapa grade tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Ekonomi & Bisnis

Proyeksi Inflasi April 2026 Naik 0,43% Dipicu Kenaikan BBM Non-Subsidi

proyeksi inflasi april 2026 naik 0,43% dipicu kenaikan bbm non-subsidi
Ilustrasi inflasi. (freepik)

Jakarta, Sinatar.id – Inflasi Indonesia pada April 2026 diperkirakan mengalami kenaikan secara bulanan.

Salah satu pemicunya adalah lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi serta kenaikan sejumlah komoditas pangan.

Advertisement

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data inflasi April 2026 pada Senin (4/5/2026).

Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 institusi, Indeks Harga Konsumen (IHK) diproyeksikan mengalami inflasi sebesar 0,43% secara bulanan (month-to-month/mtm). Sementara itu, inflasi tahunan diperkirakan melandai ke level 2,72% (year-on-year/yoy).

Adapun inflasi inti pada April 2026 diperkirakan berada di angka 2,40% (yoy).

Sebagai perbandingan, pada Maret 2026 Indonesia mencatat inflasi 0,41% (mtm) dan 3,48% (yoy), dengan inflasi inti sebesar 2,63% (yoy).

Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menyebutkan bahwa kenaikan inflasi bulanan terutama didorong oleh harga sejumlah bahan pangan, seperti beras, gula, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, gandum, kedelai, dan cabai merah.

Baca Juga  Bursa Asia Pasifik Bergejolak, Sentimen Timur Tengah Tekan Pasar Saham

Selain itu, kenaikan harga BBM non-subsidi turut memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi.

“Pelemahan rupiah juga mendorong inflasi impor. Sementara itu, penurunan harga emas dunia membuat harga emas dan perhiasan ikut turun pada Maret lalu,” ujar Juniman.

Pemerintah sendiri telah menaikkan harga BBM non-subsidi sejak 18 April 2026. Harga Pertamax Turbo naik dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter. Dexlite meningkat dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter, sedangkan Pertamina Dex naik dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.

Kenaikan juga terjadi pada harga LPG 12 kg yang naik sebesar Rp36.000 menjadi Rp228.000 per tabung di wilayah Jabodetabek.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, memperkirakan penyesuaian harga energi tersebut memberikan tambahan sekitar 0,04 poin persentase terhadap inflasi bulanan.

Baca Juga  Pengangguran Indonesia Turun 4,74 Persen, BPS Catat Kenaikan Penduduk Bekerja

Namun, kenaikan inflasi tidak terlalu tinggi karena adanya penurunan harga sejumlah komoditas, seperti cabai rawit, cabai merah, daging ayam, dan telur.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) menunjukkan beberapa komoditas mengalami kenaikan harga. Rata-rata harga beras naik 0,57% menjadi Rp15.929 per kilogram, sementara minyak goreng naik 2,07% menjadi Rp22.229 per kilogram.

Di sisi lain, harga daging ayam turun sekitar 4% menjadi Rp40.511 per kilogram. Harga cabai rawit merah juga menurun, memberikan sedikit tekanan penahan terhadap inflasi.

Kenaikan harga avtur turut memengaruhi inflasi, terutama melalui sektor transportasi udara. Harga tiket pesawat tercatat naik 3,13% (mtm), meskipun lebih rendah dibandingkan kenaikan pada Maret sebesar 5,24%.

Baca Juga  BPS: Januari 2026 Deflasi 0,15 Persen, Inflasi Tahunan Tercatat 3,55 Persen

Kondisi ini berbeda dari pola umum pasca-Lebaran yang biasanya diikuti penurunan harga tiket.

Ekonom Bank Danamon, Hosianna Situmorang, menjelaskan bahwa secara tahunan inflasi diperkirakan melandai. Hal ini disebabkan berakhirnya efek basis (base effect) dari kebijakan diskon listrik pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menilai dampak kenaikan harga BBM non-subsidi terhadap inflasi relatif terbatas.

“Kontribusi BBM non-subsidi terhadap inflasi ada, namun tidak terlalu besar,” ujarnya. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini