Tarutung, Sinata.id β Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada Sabtu (18/4/2026) sekitar pukul 16.15 WIB, menyebabkan sejumlah ruas jalan di pusat Kota Tarutung terendam banjir.
Ketinggian air dilaporkan mencapai 30 hingga 50 sentimeter, terutama di kawasan sekitar Sungai Aek Sigeaon dan Jalan Diponegoro.
Genangan air tersebut sempat mengganggu aktivitas masyarakat dan arus lalu lintas, termasuk di jalur strategis menuju Sibolga.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa ini memicu sorotan publik terhadap kondisi infrastruktur perkotaan, khususnya sistem drainase yang dinilai tidak berfungsi optimal.
Secara geografis, Kota Tarutung berada di wilayah hilir dengan aliran sungai yang seharusnya mampu menampung limpasan air hujan. Namun, buruknya pengelolaan saluran air menyebabkan genangan justru terjadi di pusat kota.
Alboin Tanjung, seorang sopir lintas provinsi, mengaku terkejut dengan kondisi tersebut. Ia menyebut banjir di pusat Kota Tarutung sebagai kejadian yang jarang terjadi.
βSejak tahun 2000-an saya melintas di sini, baru kali ini melihat pusat kota terendam banjir setinggi ini. Padahal ada Sungai Aek Sigeaon di hilir, seharusnya air bisa cepat surut,β ujarnya.
Menurutnya, sistem drainase dan gorong-gorong yang tidak berfungsi maksimal menjadi penyebab utama terjadinya genangan, sehingga aliran air tersendat dan meluap ke badan jalan.
Hal serupa disampaikan warga setempat, Levano Hutabarat (53). Ia menilai pemerintah daerah belum serius dalam membenahi infrastruktur dasar, terutama saluran drainase.
Levano menyoroti kondisi gorong-gorong di Jalan Gajah Mada, tepatnya di samping Kantor Inspektorat, yang disebutnya tersumbat material batu dan belum mendapat penanganan meski telah dilaporkan.
βSaluran itu tersumbat, bahkan sudah pernah kami cek langsung. Laporan sudah disampaikan, tapi belum ada tindak lanjut,β katanya.
Keluhan juga datang dari pelaku usaha di sekitar lokasi terdampak. Pemilik rumah makan, Hanna Tobing, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berupaya memeriksa kondisi gorong-gorong yang diduga menjadi penyebab banjir, namun hingga kini belum ada penanganan dari pihak terkait.
Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem drainase kota. Tanpa langkah konkret, banjir serupa dikhawatirkan akan terus berulang dan berdampak pada aktivitas masyarakat, terutama di kawasan pusat ekonomi. (SN15)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini