Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 4 Mei 2026 |15:05 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15415 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15145 EUP ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15198 (PRISCOLIN) 15097 (PAA) 15100 (AGM) 15215 PRISCOLIN ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14875 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14850 14589 (MNA) 14600 (PBI) 14965 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15035 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • PRISCOLIN unggul pada FOB TDUKU
  • Segmen LOCO masih cenderung melemah dan belum merata
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Nasional

Lestari Moerdijat Minta Kesehatan Mental Masuk Kurikulum Nasional

jadikan momentum imlek mempercepat pembangunan nasional
Lestari Moerdijat

Jakarta, Sinata.id – Anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat menekankan tentang pentingnya memasukkan aspek kesehatan mental pada kurikulum pendidikan nasional.

Menurutnya, kondisi kesehatan mental anak dan remaja saat ini memerlukan penanganan yang terintegrasi untuk menjaga keberlangsungan generasi penerus bangsa.

Advertisement

Ia mengutip data Kementerian Kesehatan yang menunjukkan sekitar 5 persen anak dan remaja di Indonesia mengalami gejala gangguan jiwa, terutama depresi dan kecemasan. Sementara itu, hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada Maret 2026 mencatat satu dari sepuluh anak memiliki indikasi masalah kesehatan mental.

Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, ratusan ribu di antaranya menunjukkan gejala depresi dan kecemasan. Namun, hanya sebagian kecil yang mendapatkan penanganan profesional.

Baca Juga  Prabowo Bakal Putuskan Nasib Subsidi LPG 3 Kg

Lestari menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius, termasuk dalam sistem pendidikan nasional. Ia menyebut pendekatan pendidikan yang selama ini lebih menitikberatkan pada capaian akademik perlu diimbangi dengan penguatan aspek emosional dan kesehatan mental.

Menurutnya, lingkungan pendidikan seharusnya mampu mendukung ketahanan mental peserta didik, bukan justru menambah tekanan.

Ia juga menyoroti bahwa anak dan remaja saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, sehingga membutuhkan kemampuan memahami dan mengelola kondisi psikologis.

Untuk itu, ia mendorong adanya komitmen dari para pemangku kepentingan guna menghadirkan kebijakan yang mendukung pembentukan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki ketahanan mental yang baik. (A18)

Baca Juga  Setjen DPR Perkuat Integritas Lewat Sosialisasi LHKPN dan Pengendalian Gratifikasi

Sumber: Parlementaria

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini