Pematangsiantar, Sinata.id – Minggu (5/4/2026) pagi di kawasan Jalan Medan, Simpang Pertamina, Kelurahan Pondok Sayur, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar, terasa berbeda.
Tawa riang anak-anak memecah suasana, berpadu dengan semangat perayaan Paskah yang hangat dan penuh makna.
Di halaman Gereja GKPI Jemaat Khusus Bongbongan, puluhan anak Sekolah Minggu berlarian kecil.
Mata mereka berbinar, tangan-tangan mungil sigap menyibak sudut-sudut taman, mencari telur-telur Paskah yang tersembunyi. Kegiatan Easter Egg Hunt ini menjadi bagian dari perayaan kebangkitan Yesus Kristus yang dikemas ceria dan edukatif.
Keceriaan begitu terasa. Sorak sorai dan gelak tawa anak-anak mengalun sepanjang kegiatan, menciptakan suasana penuh sukacita.
Di balik permainan sederhana itu, tersimpan pesan iman yang mendalam tentang kemenangan kehidupan atas kematian dan harapan baru bagi umat Kristiani.
Tradisi berburu telur Paskah sendiri bukan sekadar permainan. Telur dimaknai sebagai simbol kubur kosong Yesus, sementara aktivitas mencarinya menggambarkan sukacita umat dalam menemukan kabar kebangkitan.
Warna-warni telur yang menghiasi perayaan juga menjadi lambang kehidupan baru dan harapan.
Bagi Andra (15), kegiatan ini menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus berkesan. Dengan wajah ceria, ia mengaku menikmati setiap momen kebersamaan.
“Saya senang sekali ikut mencari telur Paskah. Bisa bermain dengan teman-teman sekaligus belajar tentang kebangkitan Yesus. Semoga tahun depan ada lagi,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).
Hal serupa diungkapkan Angelina (16). Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan kegembiraan, tetapi juga memperdalam pemahaman tentang makna Paskah.
“Kami belajar untuk saling berbagi dan bersukacita. Kegiatannya seru dan membuat kami semakin dekat satu sama lain,” katanya.
Namun, bukan hanya keceriaan anak-anak yang menarik perhatian. Lokasi kegiatan ini memiliki makna tersendiri.
Gereja GKPI Bongbongan berdiri berdampingan dengan Masjid Bhakti. Dua rumah ibadah yang telah puluhan tahun hidup dalam harmoni.
Kedekatan fisik itu mencerminkan kedekatan sosial warga. Ayub, salah seorang warga setempat, menuturkan bahwa toleransi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Kalau ada kegiatan di masjid, pihak gereja menghormati. Begitu juga sebaliknya. Kami sudah terbiasa hidup rukun di sini,” ungkapnya.
Baginya, toleransi bukan sekadar wacana, melainkan nilai yang tumbuh dan dijaga bersama. Kehadiran dua tempat ibadah yang berdampingan justru memperkuat rasa persaudaraan di tengah perbedaan.
Di tengah riuhnya perburuan telur Paskah, terselip pesan yang lebih besar. Kegiatan ini bukan hanya tentang permainan anak-anak, tetapi juga tentang bagaimana nilai kasih, kebersamaan, dan toleransi terus hidup dan berkembang.
Di Bongbongan, Paskah dirayakan bukan hanya dengan sukacita, tetapi juga dengan harmoni. Sebuah potret kecil yang mencerminkan wajah damai Kota Pematangsiantar, di mana perbedaan tidak memisahkan, melainkan menyatukan. (SN10)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini