Jakarta, Sinata.id — Krisis di Selat Hormuz memasuki babak baru yang lebih mengkhawatirkan. Jalur vital yang selama ini mengalirkan hampir seperlima minyak dunia kini tak lagi bebas dilalui.
Data pelayaran terbaru menunjukkan, hanya segelintir kapal yang berhasil menembus jalur sempit tersebut, dan mayoritas di antaranya terkait dengan Iran serta pengiriman menuju China.
Dalam kondisi normal, lebih dari 100 kapal bisa melintas setiap hari. Namun kini, rata-rata hanya sekitar dua kapal per hari yang berani menembus zona berisiko tinggi tersebut.
Situasi ini bukan kebetulan. Iran secara terbuka memberi sinyal bahwa akses Selat Hormuz kini bersifat selektif.
Pemerintah Teheran menegaskan jalur tersebut tetap terbuka, tetapi tidak untuk negara yang dianggap musuh.
“Selat Hormuz terbuka… hanya ditutup untuk musuh,” tegas Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dikutip Rabu (18/3/2026).
Kebijakan ini membuat kapal-kapal dari negara tertentu, terutama yang terkait Barat, praktis terblokir.
Sebaliknya, kapal yang memiliki hubungan dagang dengan China justru relatif lebih aman untuk melintas.
Di tengah ketegangan militer, China muncul sebagai pemain kunci.
Sebagian besar kapal tanker yang berhasil keluar dari Teluk Persia saat ini mengarah ke China, yang memang menjadi pembeli utama minyak Iran.
Bahkan, laporan intelijen maritim menunjukkan beberapa kapal sengaja “mengaku” terkait China untuk menghindari serangan.
Strategi ini bukan tanpa alasan. China dinilai memiliki posisi netral dan hubungan ekonomi kuat dengan Iran, sehingga kapal yang terafiliasi dengannya cenderung tidak menjadi target.
Dampaknya brutal. Lebih dari 1.000 kapal dilaporkan tertahan di kawasan Teluk Persia akibat situasi yang tidak aman.
Sejak konflik memanas, setidaknya puluhan kapal mengalami serangan atau insiden mencurigakan.
Banyak perusahaan pelayaran akhirnya memilih menunda perjalanan atau mencari rute alternatif yang jauh lebih panjang, meski biaya melonjak tajam. [a46]










Jadilah yang pertama berkomentar di sini