Info Market CPO
πŸ—“ Update: Kamis, 30 April 2026 |18:09 WIB |Volume: 0.5K β€’ 0.3K β€’ 0.2K β€’DMI β€’ FOB TDUKU β€’ LOCO PARINDU β€’ LOCO KEMBAYAN β€’ LOCO NGABANG β€’ LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K Β· DMI
15312 15225 (KJA) 15400 (AGM) 15450 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K Β· DMI
15312 15225 (KJA) 15205 15450 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K Β· FOB TDUKU
15112 (PRISCOLIN) 14995 (MM) 15000 (AGM) 15250 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K Β· LOCO PARINDU
14787 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K Β· LOCO KEMBAYAN
14762 14490 (MNA) 14500 (PBI) 15000 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K Β· LOCO NGABANG
14947 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K Β· LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Pasar cenderung melemah pada beberapa lokasi LOCO
  • Persaingan harga cukup ketat antar bidder
  • Masih terdapat beberapa grade tanpa penawaran
πŸ‘₯Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Ekonomi & Bisnis

Purbaya Kritik Analis TikTok dan YouTube: Jangan Asal Bicara Tanpa Data

purbaya kritik analis tiktok dan youtube: jangan asal bicara tanpa data
Menteri Keuangan, Purbaya

Jakarta, Sinata.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan kritik tajam kepada sejumlah analis ekonomi yang kerap menyampaikan prediksi suram tentang kondisi ekonomi Indonesia melalui media sosial, khususnya TikTok dan YouTube.

Menurut Purbaya, banyak analisis yang beredar di platform tersebut terlalu cepat menyimpulkan bahwa perekonomian nasional akan runtuh, tanpa melihat data secara utuh.

Advertisement

Pernyataan itu disampaikan Purbaya saat memaparkan kondisi ekonomi kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026).

Dalam kesempatan itu, Purbaya menegaskan bahwa kekhawatiran terkait lonjakan harga minyak dunia bukanlah hal baru. Ia menyebut situasi serupa telah beberapa kali terjadi dalam sejarah ekonomi Indonesia.

Baca Juga  Danantara akan Pangkas 1.067 jadi 250 BUMN Tanpa PHK

Namun, pengalaman menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak tidak selalu berujung pada kemerosotan ekonomi nasional.

β€œJadi kita nggak usah takut Pak. Jadi analis-analis yang di TikTok, di YouTube yang bilang kita hancur, itu sama sekali nggak pernah melihat data,” kata Purbaya.

Untuk memperkuat argumennya, Purbaya menampilkan perbandingan data antara pergerakan harga minyak mentah Brent Crude Oil dan kinerja ekonomi Indonesia.

Ia mencontohkan periode 2007–2008 saat harga minyak Brent melonjak tajam hingga menembus lebih dari 220 dolar AS per barel. Meski begitu, perekonomian Indonesia masih mampu mencatat pertumbuhan sekitar 4,6 persen.

Menurutnya, kondisi tersebut bisa terjadi karena kebijakan fiskal dan moneter yang tepat pada saat itu.

Baca Juga  IHSG Diproyeksi Melemah Awal Pekan, Analis Waspadai Uji Level Support Kunci

Purbaya juga menyinggung periode lain ketika harga minyak global kembali naik tinggi, yakni pada 2011 saat Brent berada di kisaran 110 hingga 120 dolar AS per barel. Pada masa tersebut, indikator ekonomi domestik juga tetap menunjukkan kinerja positif.

Ia menambahkan pengalaman serupa terjadi setelah masa COVID-19. Ketika harga minyak dunia kembali melampaui 100 dolar AS per barel, ekonomi nasional tetap mampu bertahan bahkan perlahan membaik.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Purbaya menilai gejolak harga minyak global tidak perlu disikapi dengan kepanikan berlebihan. Selama kebijakan ekonomi dijalankan secara tepat, dampaknya dapat dikelola.

β€œKalau kita punya kebijakan yang pas, baik moneter maupun fiskal, walaupun harga minyak global gonjang-ganjing, kita punya pengalaman untuk mengendalikan dampaknya terhadap perekonomian,” ujar Purbaya. (A18)

Baca Juga  FIX! Harga BBM Subsidi Tak Akan Naik hingga Akhir 2026, Ini Jaminan Pemerintah

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini