Jakarta, Sinata.id – Perubahan besar yang dilakukan perusahaan teknologi ini akhirnya menunjukkan hasil. Setelah melalui masa sulit, PT Bukalapak.com Tbk berhasil membalikkan keadaan dari rugi menjadi untung.
Strateginya tidak biasa: memangkas jumlah karyawan secara besar-besaran sekaligus menghentikan bisnis penjualan produk fisik yang selama ini menjadi salah satu identitas marketplace tersebut.
Langkah drastis itu kini mulai membuahkan hasil.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, dikutip Jumat (13/3/2026), Bukalapak mencatat pendapatan bersih sebesar Rp6,51 triliun sepanjang 2025, melonjak sekitar 48% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp4,40 triliun.
Perusahaan melakukan efisiensi besar di hampir semua lini operasional. Salah satu langkah paling signifikan adalah pemangkasan tenaga kerja hingga sekitar 58% dari total karyawan sebelumnya.
Selain itu, Bukalapak juga mengambil keputusan strategis yang cukup mengejutkan pasar: menghentikan layanan penjualan produk fisik di platformnya.
Dengan kata lain, perusahaan memilih meninggalkan model marketplace tradisional yang menjual barang seperti elektronik, pakaian, atau kebutuhan rumah tangga.
Sebagai gantinya, Bukalapak memperkuat bisnis yang dinilai lebih efisien dan memiliki margin lebih baik.
Langkah efisiensi terlihat jelas dari sisi biaya operasional perusahaan.
Beban umum dan administrasi yang sebelumnya mencapai Rp1,45 triliun pada 2024 berhasil ditekan tajam menjadi sekitar Rp490 miliar pada 2025. Penurunan drastis ini sejalan dengan kebijakan restrukturisasi organisasi dan pengurangan karyawan.
Meski demikian, aktivitas usaha perusahaan tetap meningkat. Hal ini terlihat dari naiknya beban pokok pendapatan menjadi Rp5,90 triliun, meningkat dibandingkan Rp3,74 triliun pada tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa volume bisnis Bukalapak masih bertumbuh meski strategi bisnisnya berubah.
Keputusan meninggalkan penjualan produk fisik bukan tanpa alasan.
Selama beberapa tahun terakhir, persaingan di industri e-commerce Indonesia semakin ketat. Platform besar dengan strategi promosi agresif dan subsidi besar membuat margin keuntungan semakin tertekan.
Bukalapak akhirnya memilih jalur berbeda: mengalihkan fokus ke layanan digital dan produk virtual yang dinilai lebih efisien serta memiliki risiko operasional lebih kecil.
Model bisnis ini mencakup berbagai layanan digital seperti pembayaran, layanan keuangan, dan transaksi berbasis ekosistem mitra. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini