Jakarta, Sinata.id β Pemerintah menilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih berada dalam kondisi kuat dan mampu menjadi penyangga ekonomi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah yang memicu volatilitas pasar keuangan dan lonjakan harga energi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, kemarin (11/3/2026). Ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga meskipun dinamika global menunjukkan tekanan yang cukup kuat.
Menurutnya, indikator harga minyak mentah masih memberikan ruang bagi pengelolaan fiskal. Hingga Maret 2026, rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) tercatat sekitar 68 dolar AS per barel.
Angka ini masih berada di bawah asumsi harga minyak dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar 70 dolar AS per barel, meskipun harga minyak Brent sempat menembus level 100 dolar AS per barel di pasar global.
Purbaya menilai kondisi tersebut menunjukkan ruang fiskal pemerintah masih cukup untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga energi di masa mendatang.
Ia menyebut pengelolaan APBN tetap dapat disesuaikan apabila tekanan global meningkat, namun posisi fiskal Indonesia saat ini dinilai cukup kuat untuk menghadapi ketidakpastian tersebut.
Di sisi lain, pemerintah juga melihat penguatan pada sektor riil sebagai faktor yang menopang optimisme ekonomi nasional. Indeks Manufaktur Purchasing Managersβ Index (PMI) Indonesia pada Februari 2026 mencapai 53,8, tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Capaian itu menandakan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi dan bahkan berada di atas sejumlah negara besar seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Australia.
Indikator konsumsi masyarakat turut memperlihatkan tren positif. Indeks belanja masyarakat yang tercermin dalam Mandiri Spending Index tercatat naik hingga 360,7 persen pada Februari 2026. Pada periode yang sama, penjualan mobil juga meningkat dua digit sekitar 12 persen.
Pemerintah menilai data tersebut menunjukkan daya beli masyarakat masih terjaga, sejalan dengan Indeks Keyakinan Konsumen yang tetap berada di atas level 100.
Mengenai inflasi yang tercatat 4,76 persen secara tahunan pada Februari 2026, Purbaya menjelaskan kenaikan tersebut dipengaruhi faktor sementara berupa efek basis rendah akibat kebijakan diskon tarif listrik pada tahun sebelumnya.
Jika faktor tersebut dikeluarkan dari perhitungan, tingkat inflasi diperkirakan hanya sekitar 2,59 persen, masih berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan pemerintah.
Selain itu, stabilitas ekonomi juga ditopang oleh koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia. Penempatan dana kas pemerintah sebesar Rp200 triliun di sistem perbankan dinilai mampu menjaga likuiditas sektor keuangan.
Kebijakan tersebut berkontribusi pada penurunan suku bunga kredit yang tercatat sekitar 8,8 persen pada Januari 2026.
Dari sisi kinerja fiskal, realisasi APBN hingga akhir Februari 2026 menunjukkan pendapatan negara mencapai Rp358 triliun atau sekitar 11,4 persen dari target tahunan.
Angka ini tumbuh 12,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan penerimaan pajak meningkat signifikan hingga 30,4 persen.
Sementara itu, belanja negara tercatat sebesar Rp493,8 triliun atau sekitar 12,8 persen dari pagu anggaran. Realisasi tersebut meningkat 41,9 persen secara tahunan.
Pemerintah mempercepat penyaluran belanja sejak awal tahun sebagai strategi untuk memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi.
Dengan perkembangan tersebut, defisit APBN hingga Februari 2026 tercatat sebesar Rp135,7 triliun atau sekitar 0,53 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Pemerintah menilai tingkat defisit tersebut masih dalam batas yang aman dan terkendali.
Purbaya menyimpulkan kombinasi antara peningkatan pendapatan negara, percepatan belanja pemerintah, serta defisit yang tetap terjaga menunjukkan APBN masih berfungsi efektif sebagai instrumen stabilisasi sekaligus pendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. (A58)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini