Jakarta, Sinata.id — Pemerintahan Presiden Donald Trump meluncurkan strategi baru dalam persaingan global kecerdasan buatan (AI) dengan cara yang tak terduga: mengirim ribuan ahli matematika dan sains AS ke luar negeri melalui program khusus untuk memperkuat pengaruh teknologi Amerika dan menahan dominasi pesaing, terutama China. Inisiatif ini diumumkan menjelang pembukaan India AI Impact Summit dan menjadi bagian dari upaya Washington memperluas pengaruh teknologi di dunia berkembang.
Program yang disebut Technology Prosperity Corps akan memanfaatkan jaringan Peace Corps, lembaga tradisional Amerika Serikat yang biasanya mengirim relawan ke berbagai negara untuk kegiatan sosial dan pembangunan, menjadi armada teknologi modern. Dalam lima tahun ke depan, diperkirakan hingga 5.000 lulusan ilmu pengetahuan dan matematika akan diterjunkan sebagai penasihat maupun tenaga ahli.
Rencana besar ini disampaikan oleh Michael Kratsios, Direktur Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi di Gedung Putih, yang berbicara soal bagaimana AS ingin mentransformasi Peace Corps yang berdiri enam dekade lalu agar relevan di era digital dan persaingan teknologi yang semakin ketat. “Untuk mempercepat adopsi AI di dunia berkembang, pemerintahan membawa Peace Corps bersejarah Amerika ke abad ke-21 dengan peluncuran Tech Corps,” ujar Kratsios dalam salinan pidatonya yang diperoleh media pada Jumat (20/2/2026).
Baca Juga: RI Wajib Impor Migas dari AS, Tapi Solar Tetap Disetop: Ini Penjelasan ESDM
Tujuan utama program ini adalah mendorong negara-negara mitra untuk mengadopsi perangkat keras dan perangkat lunak AI buatan Amerika, sekaligus membatasi penetrasi solusi teknologi dari rival utama AS, yakni China. Sejumlah pengamat kebijakan internasional menilai langkah ini merupakan perpaduan antara diplomasi teknologi dan strategi ekonomi global, di mana AS ingin tetap memimpin dalam inovasi sekaligus membentuk jaringan ketergantungan teknologi di tingkat internasional.
Sebelumnya, persaingan AI antara AS dan China telah menjadi isu penting dalam kebijakan luar negeri kedua negara. China telah lama fokus pada pengembangan talenta STEM (science, technology, engineering, and mathematics), yang menurut berbagai laporan membuat negara tersebut menjadi magnet bagi ilmuwan dan ahli matematika, sekaligus meningkatkan kredibilitas teknologi mereka di pasar global.
Namun, Amerika Serikat berusaha menanggapi tantangan tersebut dengan pendekatan berbeda: bukan hanya mendukung riset lokal, tetapi juga mengedepankan diplomasi teknologi lintas batas negara. Dengan program baru ini, Washington berharap negara-negara berkembang akan memilih teknologi AI asal AS daripada alternatif yang ditawarkan pesaing. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini