Jakarta, Sinata.id – Pemerintah bersiap melakukan “operasi logistik” skala besar menjelang musim haji 1447 Hijriah. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI menargetkan 2.280 ton Beras Haji Nusantara dikirim ke Arab Saudi pada awal Ramadan, sekitar 18–20 Februari 2026. Misi utamanya: memastikan ratusan ribu jemaah Indonesia tetap menikmati nasi dengan cita rasa Tanah Air di Tanah Suci.
Menteri Haji dan Umrah RI, Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, menegaskan pengiriman dilakukan sejak pekan pertama Ramadan agar seluruh stok telah tersedia sebelum puncak ibadah haji.
“Di minggu awal Ramadan sudah mulai kita kirim. Harapannya, sebelum musim haji seluruh kebutuhan sudah tiba,” ujar Gus Irfan usai membuka Manasik Haji Nasional di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (11/2/2026).
Baca Juga: Jelang Ramadan, Presiden Prabowo Kucurkan Rp72,7 Miliar untuk Meugang Warga Aceh
Bukan Sekadar Logistik, Ini Soal Kenyamanan Jemaah
Di hadapan ribuan calon jemaah, Gus Irfan menekankan bahwa pemerintah kini melangkah lebih jauh. Jika tahun lalu Indonesia hanya mengirim bumbu, tahun ini beras premium juga ikut dikapalkan.
“Sekarang bukan hanya bumbu, tapi beras juga kita kirim. Kualitasnya bagus, supaya jemaah tetap merasa seperti makan di rumah sendiri,” katanya.
Program ini dikemas dalam inisiatif “Beras Haji Nusantara”, yang menjadi bagian dari strategi besar Kemenhaj untuk meningkatkan standar layanan konsumsi jemaah 2026. Di saat yang sama, langkah ini juga membuka peluang bagi produk beras dalam negeri menembus pasar internasional.
205 Ribu Jemaah, 111 Kali Makan
Total kebutuhan beras dihitung untuk 205.420 jemaah dan petugas haji. Setiap orang akan menerima makan 111 kali selama berada di Tanah Suci—mulai dari Makkah, Madinah, hingga puncak ibadah di Armuzna.
Rinciannya:
-
78 kali makan di Makkah
-
27 kali di Madinah
-
6 kali di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
“Kami ingin memastikan setiap butir nasi yang dikonsumsi jemaah punya kualitas terbaik dan tetap bercita rasa Nusantara,” kata Gus Irfan.
Spesifikasi beras yang dikirim pun tidak main-main: beras premium, long grain, dengan tingkat pecahan maksimal 5 persen.
Tekan Biaya, Standarkan Menu
Selama ini, dapur penyedia katering di Arab Saudi umumnya menggunakan beras impor dari negara lain dengan harga sekitar 150 riyal Saudi per 40 kilogram, atau setara Rp16.824 per kilogram.
Melalui skema Beras Haji Nusantara, pemerintah menargetkan harga bisa ditekan menjadi sekitar Rp16.000 per kilogram saat tiba di dapur katering.
“Dengan skema ini, kita ingin efisien sekaligus seragamkan standar menu,” jelas Gus Irfan.
Setiap porsi makan jemaah nantinya akan berisi:
-
Nasi 170 gram
-
Lauk 80 gram
-
Sayur 75 gram
-
Air mineral dan pelengkap lainnya
Bagi pemerintah, program ini bukan hanya soal logistik pangan. Ini adalah bagian dari transformasi layanan haji—menggabungkan kualitas, efisiensi, dan kebanggaan pada produk dalam negeri.
Dengan 2.280 ton beras Nusantara yang siap “mendarat” di Arab Saudi, Kemenhaj ingin memastikan satu hal: di tengah padatnya ritual dan panasnya Tanah Suci, jemaah Indonesia tetap bisa menikmati nasi dengan rasa kampung halaman. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini