Info Market CPO
🗓 Update: Selasa, 5 Mei 2026 |14:54 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • LOCO NGABANG • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15260 14693 14800 15275 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
15075 14693 14700 15175 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • Segmen LOCO masih dalam tekanan harga
  • Belum ada transaksi pada beberapa titik lokasi
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Nasional

Salah Kelola Air, Banjir Jadi Ancaman

salah kelola air, banjir jadi ancaman
Anggota Komisi V DPR RI Sudjatmiko

Jakarta, Sinata.id – Anggota Komisi V DPR RI Sudjatmiko menyatakan bahwa banjir yang berulang di banyak daerah tidak bisa semata-mata disalahkan pada tingginya intensitas hujan.

Ia menilai persoalan utama terletak pada buruknya pengelolaan siklus air serta kerusakan wilayah resapan akibat alih fungsi lahan yang tidak terkendali. Kondisi tersebut membuat air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru berubah menjadi pemicu bencana.

Advertisement

Menurut Sudjatmiko, air hujan idealnya ditahan di permukaan dan diserap ke dalam tanah untuk menjadi cadangan air. Namun, praktik yang terjadi saat ini justru membiarkan air langsung mengalir sebagai limpasan, sehingga meningkatkan potensi genangan dan banjir.

Pernyataan tersebut disampaikannya dalam Diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk “Cuaca Ekstrem, Sinergi dan Kolaborasi Bersama Atasi Bencana” yang diselenggarakan Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) bersama Biro Pemberitaan DPR RI di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Baca Juga  Tanggul Jebol, 15 Kelurahan di Cilacap Terendam Banjir, 65 Ribu Rumah Terdampak

Ia menambahkan, upaya untuk meningkatkan daya serap tanah selama ini masih sangat terbatas. Akibatnya, hujan dengan intensitas tinggi—yang sejatinya merupakan siklus alam dengan periode lima hingga seratus tahunan—langsung menimbulkan banjir di berbagai wilayah.

Sudjatmiko juga mengkritisi pembangunan infrastruktur dan kawasan hunian yang kerap mengesampingkan prinsip kelestarian lingkungan. Berkurangnya daerah resapan dan ruang terbuka hijau, lanjutnya, secara signifikan meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor.

Ia menegaskan bahwa kawasan daerah aliran sungai semestinya tidak dialihfungsikan menjadi permukiman atau area komersial karena dampaknya bisa meluas hingga ke wilayah yang sebelumnya relatif aman dari banjir.

Untuk itu, Sudjatmiko mengajak pemerintah dan masyarakat bersama-sama menjaga kawasan lindung serta ruang terbuka hijau sebagai bagian dari strategi mitigasi bencana jangka panjang.

Baca Juga  Jaksa Agung Copot 31 Kajari, Termasuk Kajari Deli Serdang dan Padang Lawas

Politisi Fraksi PKB tersebut menutup dengan peringatan bahwa mengorbankan lingkungan demi keuntungan ekonomi sesaat hanya akan membuat bencana terus berulang dan berdampak semakin besar di masa mendatang. (A18)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini