Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 30 April 2026 |18:09 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15400 (AGM) 15450 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15205 15450 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15112 (PRISCOLIN) 14995 (MM) 15000 (AGM) 15250 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14787 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14762 14490 (MNA) 14500 (PBI) 15000 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
14947 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Pasar cenderung melemah pada beberapa lokasi LOCO
  • Persaingan harga cukup ketat antar bidder
  • Masih terdapat beberapa grade tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Nasional

Respons Lambat Humas Pemerintah Beri Celah Disinformasi Menguasai Publik

respons lambat humas pemerintah beri celah disinformasi menguasai publik
Meutya Hafid

Jakarta, Sinata.id – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menegaskan bahwa praktisi hubungan masyarakat (humas) pemerintah tidak lagi memiliki kemewahan untuk memilih antara kecepatan atau ketepatan dalam menyampaikan informasi. Kedua aspek tersebut kini menjadi syarat mutlak untuk membendung arus disinformasi yang bergerak cepat di ruang digital.

MEngutip infopublik.id, pernyataan itu disampaikan Meutya saat membuka Forum Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) bertajuk “GPR Outlook 2026: Satu Narasi, Bangun Reputasi Negeri” di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Advertisement

Menurut Meutya, keterlambatan respons dari instansi pemerintah sering kali menjadi faktor utama terbentuknya persepsi publik yang keliru.

Ketika klarifikasi resmi terlambat hadir, ruang informasi publik akan terisi oleh spekulasi atau berita bohong yang lebih dulu sampai ke masyarakat.

Baca Juga  Bioetanol E10 Bakal Lebih Mahal dari Pertamax? Ini Penjelasan Lengkap dari Pakar Energi!

“Sekarang tidak bisa lagi memilih antara cepat atau tepat. Keduanya harus berjalan bersamaan. Ketika kita kalah cepat, disinformasi masuk, dan pada akhirnya yang sampai ke masyarakat juga menjadi tidak tepat,” tegas Meutya di hadapan peserta forum.

Lebih lanjut, Menkomdigi mengingatkan bahwa tolak ukur keberhasilan komunikasi publik bukan terletak pada kualitas penyusunan rilis semata, melainkan pada pemahaman yang diterima masyarakat.

Ia menilai, sebaik apa pun pesan yang disusun pemerintah akan percuma jika kalah bersaing dengan narasi yang menyesatkan.

Tantangan Reputasi di Era Digital

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, menyoroti kerentanan reputasi lembaga negara di era media sosial.

Baca Juga  Wamenaker Immanuel Ebenezer Berurai Air Mata saat Ditahan KPK Kasus Pemerasan

Fifi menjelaskan bahwa opini publik kini dapat terbentuk hanya dalam hitungan menit, sering kali mendahului penjelasan resmi pemerintah.

“Di era digital, reputasi sering kali runtuh bukan karena kebijakan itu sendiri, tetapi karena cerita yang lebih dulu dipercaya publik,” ujar Fifi.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Fifi menekankan pentingnya konsep “satu narasi”. Konsep ini, menurutnya, bukan berarti penyeragaman pesan secara kaku, melainkan penyelarasan arah komunikasi antarinstansi agar saling menguatkan dan tidak kontradiktif.

Transformasi Menuju Arsitek Reputasi

Forum tersebut juga menghadirkan perspektif dari praktisi media dan analisis data. Direktur Komunikasi PT Indonesia Indicator, Rustika Herlambang, mendorong humas pemerintah untuk meninggalkan pola komunikasi yang reaktif dan defensif. Ia menyarankan agar humas bertransformasi menjadi “arsitek reputasi” yang mampu bekerja secara strategis dan visioner.

Baca Juga  TikTok Matikan Fitur Live di Indonesia, Perintah Siapa?

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Haryo Damardono, menekankan pentingnya adaptasi teknologi. Menurut Haryo, kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan perubahan lanskap media menuntut humas pemerintah untuk terus belajar dan memperkuat kolaborasi lintas sektor.

Sebagai informasi, Forum Bakohumas GPR Outlook 2026 dihadiri oleh lebih dari 500 peserta yang terdiri dari Kepala Biro Humas serta pejabat fungsional humas dari berbagai kementerian, lembaga, pemerintah daerah, BUMN, dan BUMD.

Forum ini berfungsi sebagai wadah koordinasi nonstruktural untuk menyinergikan komunikasi publik, menyebarluaskan kebijakan, serta menyamakan persepsi guna menjaga kepercayaan publik terhadap pemerintah. (A58)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini