Jakarta, Sinata.id – Di antara ragam kue tradisional Sumatera Selatan, Bolu Kojo menempati posisi khusus sebagai sajian yang kerap hadir dalam acara adat dan perayaan hari besar di Palembang.
Kue berwarna hijau dengan aroma pandan yang kuat ini tidak hanya dikenal sebagai hidangan, tetapi juga bagian dari tradisi kuliner yang terus dipraktikkan di tingkat rumah tangga.
Nama Bolu Kojo diyakini berasal dari kayu kojo atau gaharu, yang aromanya dianggap menyerupai wangi kue saat dipanggang.
Ciri tersebut menjadi identitas utama Bolu Kojo, selain teksturnya yang lembut namun padat, hasil perpaduan telur, santan, dan tepung terigu.
Dalam praktik pengolahan, Bolu Kojo dibuat dari bahan-bahan yang mudah diperoleh.
Santan kental menjadi komponen penting karena berfungsi membentuk rasa gurih sekaligus struktur kue.
Santan segar umumnya memberikan hasil yang lebih baik, meskipun santan instan tetap dapat digunakan selama memiliki kekentalan yang cukup.
Warna dan aroma khas diperoleh dari air pandan yang dibuat dari daun pandan dan daun suji, dengan pasta pandan sebagai alternatif.
Bahan-bahan
Satu adonan Bolu Kojo biasanya menggunakan lima butir telur, 200 gram gula pasir, 200 gram tepung terigu protein sedang, satu sendok teh baking powder, seperempat sendok teh garam, 400 mililiter santan kental, serta 100 mililiter air pandan.
Adonan diolah dengan metode panggang menggunakan oven bersuhu 180 derajat Celsius.
Pembuatan
Proses pembuatan dimulai dengan mengocok telur dan gula hingga mengembang dan berwarna pucat.
Bahan kering kemudian dicampurkan secara bertahap, disusul santan dan air pandan yang dituangkan perlahan.
Pengadukan dilakukan secukupnya hingga adonan tercampur rata untuk menjaga tekstur tetap lembut.
Adonan dituangkan ke dalam loyang yang telah diolesi margarin dan dialasi kertas roti, lalu dipanggang selama 40 hingga 50 menit hingga matang merata.
Setelah dikeluarkan dari oven dan didinginkan, Bolu Kojo siap dipotong dan disajikan.
Dengan teknik pengolahan yang relatif sederhana, Bolu Kojo tetap menjadi bagian dari pengalaman kuliner Palembang yang dapat dijumpai tidak hanya dalam perayaan adat, tetapi juga di dapur rumah, sebagai cara menjaga keberlanjutan tradisi rasa yang telah berlangsung lama. (A58)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini