Info Market CPO
🗓 Update: Jumat, 8 Mei 2026 |15:34 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • LOCO NGABANG • LOCO KEMBAYAN • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (TON) 15131 (AGM) 15275 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15100 (IMT/KJA) 15131 (AGM) 15275 KJA ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO NGABANG
14782 14675 (MNA) 14500 (PBI) 14925 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO KEMBAYAN
14772 14525 (MNA) 14400 (PBI) 14825 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14600 (MNA) 14500 (PBI) 14925 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP masih mendominasi pada beberapa titik LOCO
  • Persaingan harga di DMI berlangsung ketat
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Ekonomi & Bisnis

Rial Iran Terjun Bebas, Krisis Nilai Tukar Guncang Ekonomi dan Pasar Domestik

rial iran terjun bebas, krisis nilai tukar guncang ekonomi dan pasar domestik
Mata uang rial Iran. (reuters)

Teheran, Sinata.id – Nilai tukar rial Iran kembali mencetak rekor terendah sepanjang sejarah, menandai krisis ekonomi yang kian dalam dan berdampak langsung pada stabilitas pasar, daya beli masyarakat, serta iklim bisnis domestik.

Pelemahan mata uang ini juga menjadi pemicu meluasnya demonstrasi sejak Desember 2025.

Advertisement

Berdasarkan data kurs Selasa (13/1/2026), 1 rial Iran kini bahkan bernilai lebih rendah dari Rp1, yakni sekitar Rp0,015. Sementara terhadap dolar Amerika Serikat, tekanan semakin tajam dengan US$1 setara sekitar 1.137.500 rial. Kondisi ini menempatkan Iran sebagai salah satu negara dengan depresiasi mata uang terdalam di dunia.

Anjloknya rial mencerminkan rapuhnya fundamental ekonomi Iran. Inflasi tinggi, menyusutnya cadangan devisa, serta krisis kepercayaan terhadap mata uang domestik membuat aktivitas ekonomi berada dalam tekanan berat. Rial tidak lagi efektif sebagai alat penyimpan nilai, baik bagi rumah tangga maupun pelaku usaha.

Baca juga:Iran Sejak 1979: Garis Waktu Krisis, Perang, dan Konflik Nuklir

Situasi ini mendorong masyarakat dan pelaku bisnis beralih ke aset lindung nilai seperti dolar AS dan emas, yang justru semakin menekan permintaan terhadap rial di pasar domestik.

Mengutip data Refinitiv, pada akhir 2025 nilai tukar US$1 masih berada di kisaran 45.000 rial. Namun memasuki awal 2026, tepatnya pada perdagangan Rabu (14/1/2026), kurs melonjak drastis ke sekitar 1,04 juta rial per dolar AS, atau melemah sekitar 2.388 persen dalam waktu kurang dari satu tahun.

Lonjakan ekstrem ini berdampak langsung pada biaya impor, harga bahan baku industri, obat-obatan, dan barang konsumsi, yang sebagian besar masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Tekanan nilai tukar tidak hanya terjadi terhadap dolar AS. Dibandingkan rupiah Indonesia, pelemahan rial juga signifikan. Pada penutupan akhir 2025, Rp1 setara sekitar 45.215 rial, namun per 14 Januari 2026 melemah menjadi 59.663 rial per rupiah, atau terdepresiasi sekitar 31,95 persen.

Data ini menunjukkan bahwa krisis nilai tukar Iran tidak bersifat parsial, melainkan menyeluruh terhadap mata uang global dan negara berkembang (emerging markets).Secara nominal, pelemahan ini tampak menguntungkan bagi pemegang mata uang asing. Dengan kurs terbaru, Rp1 juta setara sekitar 59,6 miliar rial, naik tajam dibandingkan akhir 2025 yang hanya sekitar 45,2 miliar rial.

Baca juga:Presiden Iran Turun ke Jalan di Tengah Krisis Ekonomi dan Gelombang Protes

Baca Juga  Minyak Rusia–Iran Dibanting Harga, Stok Mengambang di Laut China

Namun, lonjakan tersebut tidak mencerminkan kekuatan rupiah, melainkan runtuhnya nilai rial. Dalam praktiknya, daya beli mata uang Iran sangat lemah akibat inflasi tinggi dan lonjakan harga kebutuhan pokok, sehingga nilai besar tersebut tidak berbanding lurus dengan kemampuan konsumsi.

Bagi sektor pariwisata dan perdagangan, pelemahan rial secara teori membuat Iran tampak “murah” bagi wisatawan asing. Namun ketidakstabilan ekonomi, gejolak sosial, serta risiko keamanan membuat potensi tersebut sulit dimanfaatkan.

Bagi pelaku usaha, volatilitas nilai tukar juga meningkatkan ketidakpastian biaya produksi dan distribusi, sehingga menekan minat investasi dan ekspansi bisnis.

Secara historis, depresiasi rial telah berlangsung selama puluhan tahun. Pada masa Revolusi Iran 1979, US$1 setara sekitar 70 rial. Memasuki awal 2026, kurs pasar bebas menembus 1,4 juta rial per dolar AS, bahkan sempat menyentuh 1.457.000 rial.

Dengan perbandingan tersebut, nilai rial secara kasar telah tergerus hingga sekitar 20 ribu kali lipat dalam empat dekade. Pelemahan ini merupakan akumulasi inflasi kronis, sanksi ekonomi internasional, keterbatasan akses devisa, serta kompleksitas kebijakan nilai tukar antara kurs resmi dan pasar bebas.

Baca juga:Polisi Iran Klaim Situasi Nasional Kembali Tenang Usai Gelombang Kerusuhan

Baca Juga  IHSG Diprediksi Melemah ke Level 7.308, Rupiah dan Harga Minyak Jadi Tekanan Utama

Dalam beberapa periode terakhir, krisis nilai tukar beriringan dengan meningkatnya tekanan sosial. Kenaikan harga barang impor dan kebutuhan dasar langsung dirasakan masyarakat, menjadikan isu ekonomi sebagai pemicu utama demonstrasi di berbagai wilayah.

 Secara keseluruhan, merosotnya nilai rial bukan sekadar persoalan angka kurs, melainkan refleksi dari tekanan struktural ekonomi Iran yang berdampak luas pada pasar, dunia usaha, dan kehidupan sehari-hari masyarakat. (A02)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini