Info Market CPO
🗓 Update: Jumat, 8 Mei 2026 |15:34 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • LOCO NGABANG • LOCO KEMBAYAN • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (TON) 15131 (AGM) 15275 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15100 (IMT/KJA) 15131 (AGM) 15275 KJA ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO NGABANG
14782 14675 (MNA) 14500 (PBI) 14925 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO KEMBAYAN
14772 14525 (MNA) 14400 (PBI) 14825 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14600 (MNA) 14500 (PBI) 14925 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP masih mendominasi pada beberapa titik LOCO
  • Persaingan harga di DMI berlangsung ketat
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Ekonomi & Bisnis

Penjualan Rumah Anjlok 25 Persen, BI Ungkap Penyebabnya

penjualan rumah anjlok 25 persen, bi ungkap penyebabnya
Ilustrasi penjualan properti residensial. (incomerealty)

Jakarta, Sinata.id – Bank Indonesia (BI) mencatat penjualan properti residensial di pasar primer mengalami kontraksi tajam sebesar 25,67 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I 2026.

Penurunan tersebut menjadi pembalikan kondisi pasar dibandingkan kuartal IV 2025 yang sebelumnya masih tumbuh positif sebesar 7,83 persen.

Advertisement

Berdasarkan laporan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) BI, penurunan paling dalam terjadi pada penjualan rumah tipe kecil yang terkontraksi hingga 45,59 persen.

“Penjualan properti residensial di pasar primer pada triwulan I 2026 secara tahunan mengalami penurunan,” tulis BI dalam laporan SHPR kuartal I 2026.

Selain rumah tipe kecil, penjualan rumah tipe besar juga masih mengalami kontraksi sebesar 8,03 persen secara tahunan. Meski demikian, angka tersebut membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 10,95 persen.

Baca Juga  Rupiah Menguat di Tengah Tekanan IHSG, Dolar AS Terpuruk ke Level Terendah

Sementara itu, rumah tipe menengah justru mencatat pertumbuhan positif sebesar 8,28 persen secara tahunan.

Secara triwulanan (quarter to quarter/qtq), total penjualan rumah juga mengalami kontraksi sebesar 7,69 persen setelah sebelumnya tumbuh 2,01 persen pada kuartal IV 2025.

Penurunan terdalam secara triwulanan terjadi pada rumah tipe besar yang turun 20,38 persen. Penjualan rumah tipe menengah turut terkontraksi 10,72 persen, sedangkan rumah tipe kecil turun 14,68 persen.

BI mengidentifikasi sejumlah faktor yang menghambat sektor properti, di antaranya kenaikan harga bahan bangunan sebesar 20,97 persen, kendala birokrasi perizinan sebesar 18,15 persen, serta tingginya uang muka kredit pemilikan rumah (KPR).

Selain itu, faktor perpajakan dan suku bunga KPR juga masih menjadi tantangan di pasar properti. Meski demikian, suku bunga KPR tercatat relatif stabil di level 7,42 persen.

Baca Juga  BI Pangkas Batas Beli Dolar Jadi USD50 Ribu, Siap Diperketat Lagi ke USD25 Ribu

Di tengah perlambatan penjualan rumah, pemerintah terus mendorong pembangunan hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan minimal satu juta rumah untuk buruh dan pekerja yang lokasinya berada dekat kawasan industri.

“Kita sudah membangun cukup banyak tahun ini, sudah sampai 350.000 rumah, tapi sasaran kita adalah minimal 1 juta rumah,” ujar Prabowo saat peringatan Hari Buruh Internasional di Monas, awal Mei 2026.

Menurut Prabowo, pembangunan rumah di dekat kawasan industri bertujuan mengurangi beban biaya transportasi dan sewa tempat tinggal para pekerja.

Pemerintah juga menyiapkan subsidi cicilan sebesar Rp600 ribu per bulan melalui program pembangunan tiga juta rumah untuk mendukung masyarakat berpenghasilan rendah memiliki hunian. (A02)

Baca Juga  Kegiatan Capacity Building BI Pematangsiantar di Balikpapan Disorot di Tengah Kebijakan Efisiensi Anggaran

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini