Jakarta, Sinata.id – Bank Indonesia (BI) mencatat penjualan properti residensial di pasar primer mengalami kontraksi tajam sebesar 25,67 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I 2026.
Penurunan tersebut menjadi pembalikan kondisi pasar dibandingkan kuartal IV 2025 yang sebelumnya masih tumbuh positif sebesar 7,83 persen.
Berdasarkan laporan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) BI, penurunan paling dalam terjadi pada penjualan rumah tipe kecil yang terkontraksi hingga 45,59 persen.
“Penjualan properti residensial di pasar primer pada triwulan I 2026 secara tahunan mengalami penurunan,” tulis BI dalam laporan SHPR kuartal I 2026.
Selain rumah tipe kecil, penjualan rumah tipe besar juga masih mengalami kontraksi sebesar 8,03 persen secara tahunan. Meski demikian, angka tersebut membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 10,95 persen.
Sementara itu, rumah tipe menengah justru mencatat pertumbuhan positif sebesar 8,28 persen secara tahunan.
Secara triwulanan (quarter to quarter/qtq), total penjualan rumah juga mengalami kontraksi sebesar 7,69 persen setelah sebelumnya tumbuh 2,01 persen pada kuartal IV 2025.
Penurunan terdalam secara triwulanan terjadi pada rumah tipe besar yang turun 20,38 persen. Penjualan rumah tipe menengah turut terkontraksi 10,72 persen, sedangkan rumah tipe kecil turun 14,68 persen.
BI mengidentifikasi sejumlah faktor yang menghambat sektor properti, di antaranya kenaikan harga bahan bangunan sebesar 20,97 persen, kendala birokrasi perizinan sebesar 18,15 persen, serta tingginya uang muka kredit pemilikan rumah (KPR).
Selain itu, faktor perpajakan dan suku bunga KPR juga masih menjadi tantangan di pasar properti. Meski demikian, suku bunga KPR tercatat relatif stabil di level 7,42 persen.
Di tengah perlambatan penjualan rumah, pemerintah terus mendorong pembangunan hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan minimal satu juta rumah untuk buruh dan pekerja yang lokasinya berada dekat kawasan industri.
“Kita sudah membangun cukup banyak tahun ini, sudah sampai 350.000 rumah, tapi sasaran kita adalah minimal 1 juta rumah,” ujar Prabowo saat peringatan Hari Buruh Internasional di Monas, awal Mei 2026.
Menurut Prabowo, pembangunan rumah di dekat kawasan industri bertujuan mengurangi beban biaya transportasi dan sewa tempat tinggal para pekerja.
Pemerintah juga menyiapkan subsidi cicilan sebesar Rp600 ribu per bulan melalui program pembangunan tiga juta rumah untuk mendukung masyarakat berpenghasilan rendah memiliki hunian. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini