Oleh : Pdt Mis Ev Daniel Pardede, MH
Tema “Sang Tunas” sebagaimana tertulis dalam Kitab Zakharia 3:8 kembali menjadi bahan perenungan umat Kristen, khususnya dalam rangka menyambut dan merayakan Natal. Istilah Tunas dipahami sebagai nubuat tentang kedatangan Yesus Kristus, Sang Mesias, yang dijanjikan Allah sejak zaman para nabi.
Dalam Zakharia 3:8 disebutkan, “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan hamba-Ku, Sang Tunas.” Nubuat ini digenapi dalam Perjanjian Baru, ketika Yesus menyatakan diri-Nya sebagai keturunan Daud, sebagaimana tertulis dalam Wahyu 22:16, “Aku adalah Tunas, yaitu keturunan Daud, Bintang Timur yang gilang-gemilang.”
Yesus Kristus diyakini sebagai penggenapan janji Allah kepada umat manusia.
Ia hadir bukan sekadar sebagai guru atau nabi, melainkan sebagai Putra Tunggal Allah yang datang ke dunia agar manusia dapat melihat, mendengar, dan mengalami kasih Allah secara langsung. Kehadiran-Nya di dunia telah dinubuatkan sejak lama, antara lain dalam Mikha 5:1 yang menyatakan bahwa seorang Raja akan lahir di Betlehem Efrata, yang asal-usul-Nya sejak purbakala.
Dalam ajaran-Nya, Yesus juga menggambarkan hubungan-Nya dengan umat percaya melalui perumpamaan pokok anggur yang benar. Dalam Yohanes 15:1-8, Yesus menyatakan bahwa Ia adalah pokok anggur dan umat-Nya adalah carang-carang. Setiap carang yang berbuah akan dibersihkan agar semakin berbuah, sementara yang tidak berbuah akan dipotong.
Pesan ini menegaskan pentingnya hidup yang setia dan menghasilkan buah iman dalam kehidupan sehari-hari.
Karya keselamatan Yesus mencapai puncaknya melalui penderitaan, penyaliban, kematian, dan kebangkitan-Nya.
Walaupun tidak berdosa, Ia menanggung dosa manusia, sebagaimana ditegaskan dalam Yohanes 3:16 bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Hal ini sejalan dengan Roma 6:23 yang menyatakan bahwa upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah adalah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus.
Perayaan Natal menjadi momentum bagi umat Kristen untuk tidak sekadar mengenang kelahiran Kristus, tetapi juga merenungkan makna kehadiran-Nya sebagai Sang Tunas yang membawa pengharapan, pemulihan, dan keselamatan bagi dunia.
Melalui perenungan tentang Sang Tunas, umat Kristen diajak untuk meneladani kehidupan Yesus Kristus dengan hidup seturut firman-Nya, rela memikul salib, dan setia hingga akhir. Dengan demikian, iman tidak berhenti pada perayaan semata, tetapi terwujud dalam kehidupan yang berbuah, berpengharapan, dan berorientasi pada kehidupan kekal bersama Kristus. Shalom. (A27).










Jadilah yang pertama berkomentar di sini