Pematangsiantar, Sinata.id – Protes keras dilontarkan Ketua DPD Partai Golkar Pematangsiantar, Mangatas Silalahi SE atas kebijakan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia mencopot jabatan Ketua DPD Partai Golkar Sumatera Utara dari Musa Rajekshah (Ijeck). Bahlil pun diminta untuk bertobat.
Menurut Mangatas, keputusan DPP Partai Golkar memberhentikan Ijeck dan menunjuk Ahmad Doli Kurnia sebagai Plt Ketua DPD Partai Golkar Sumatera Utara (Sumut) bertentangan dengan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan Peraturan Organisasi (PO) Partai Golkar.
“Banyak yang dilanggar ini. AD/ART, PO dan lainnya, dilanggar,” ucap Mangatas Silalahi saat ditemui di kediamannya, Senin 22 Desember 2025.
Dari sisi kepantasan, pencopotan Ijeck ditegaskan Mangatas sangat tidak pantas. “Ijeck berprestasi memimpin Golkar. Pascareformasi, di masa Ijeck lah prestasi tertinggi Golkar Sumut. Baik jumlah kursi DPRD Sumut, DPR RI dari Sumut meningkat. Kursi DPRD kabupaten kota banyak yang meningkat,” ujarnya.
Lebih lanjut Mangatas menduga pencopotan Ijeck sarat kepentingan sejumlah oknum dari luar Partai Golkar. Ia menduga, ada kepentingan Bobby Nasution dibalik pencopotan Ijeck. Untuk itu, ia berharap semua pihak yang terlibat untuk bertobat.
Dugaan itu muncul, karena ada peluang kuat, di tahun 2030 mendatang, kepala daerah akan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), sehingga memunculkan pemikiran untuk menguasai partai politik, bila ingin tetap menjadi kepala daerah.
Selain itu, sebut Mangatas, kebijakan pencopotan Ijeck tidak sesuai dengan kebijakan DPP Partai Golkar sebelumnya. Sebab sebelumnya, melalui surat edaran, DPP Partai Golkar menyatakan periodesasi kepengurusan DPD Partai Golkar Provinsi diperpanjang hingga ada penetapan jadwal Musda.
Kemudian, ada juga surat edaran berupa larangan kepada DPD Partai Golkar Provinsi untuk menunjuk Plt Ketua DPD Kabupaten/Kota. “Eh, ini dia (Bahlil), malah menunjuk Plt untuk DPD Golkar Sumut,” tutur Mangatas
Parahnya lagi, cetus Mangatas, pencopotan Ijeck dilakukan di masa yang tidak tepat, seiring Sumut sedang berduka atas bencana yang terjadi di sejumlah wilayah kabupaten dan kota.
“Sungguh sangat menyedihkan. Saat rakyat Sumut sedang berduka, pimpinan partai justru menciptakan kegaduhan di internal Partai Golkar,” tandas Mangatas. (*)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini