Pematangsiantar, Sinata.id – Ada sekira 400-an mahasiswa asal Kota Pematangsiantar terdampak bencana di Lhokseumawe, Aceh. Wali Kota Pematangsiantar, Wesly Silalahi SH MKn pum diminta peduli terhadap korban bencana.
Demikian dikatakan Penanggungjawab Relawan Penggalangan dan Pengiriman Bantuan Bencana dari Kota Pematangsiantar, Imran Simanjuntak SAg, MA, yang juga Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Samora Pematangsiantar, Sabtu 20 Desember 2025.
Kata Imran, setelah relawan dari Kota Pematangsiantar berulang kali mengirim bantuan ke Aceh dan Sumatera Barat, serta Tapanuli Tengah dan Sibolga (Sumatera Utara), pihaknya menyadari, cukup banyak mahasiswa asal Pematangsiantar yang terdampak bencana di Aceh.
Selain di Kota Lhokseumawe, juga ada mahasiswa asal Pematangsiantar yang sedang menimba ilmu di Kota Langsa. Hanya saja, untuk Kota Langsa, data jumlahnya masih sedang ditelusuri relawan.
“Kemarin yang sudah terkonsolidasi dengan kita adalah adik-adik mahasiswa Malikussaleh di Lhokseumawe. Mereka kurang lebih 400 orang,” sebut Imran Simanjuntak.
Para mahasiswa itu bergabung pada satu wadah, sehingga mudah ditemukan. “Mereka tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Pematangsiantar – Simalungun (IMPS). Untuk mahasiswa yang di Langsa, masih dicari kontak dan wadah mereka,” ujarnya.
Dengan banyaknya mahasiswa asal Pematangsiantar yang terdampak di Aceh, Imran menyesalkan sikap Wali Kota Pematangsiantar yang ia nilai kurang peduli terhadap warganya.
“Sejak awal Desember, masyarakat Siantar telah menunjukkan solidaritas nyata. Melalui posko yang dibuka di depan kantor MUI, dan telah mengirimkan bantuan kemanusiaan tujuh kali, ke Tapanuli Tengah, Sibolga, dan beberapa kali ke Aceh,” ungkapnya.
Saat ini, gerakan menggalang bantuan di Kota Pematangsiantar yang diprakarsai STAI Samora, BKPRMI, Ansor, PMII, DMI, DDII dan WI di bawa naungan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pematangsiantar, sedang mempersiapkan pengiriman bantuan ke delapan.
Namun, di tengah semangat warga untuk peduli tersebut, Imran menilai Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar belum tersentuh untuk menyalurkan bantuan untuk korban bencana.
Lebih lanjut Imran menyampaikan, sebagian mahasiswa asal Pematangsiantar di Lhokseumawe lebih memilih tidak kembali ke kota asalnya pada situasi penanggulangan bencana. Karena mereka ingin membantu menyalurkan bantuan yang datang dari Pematangsiantar ke daerah pedalaman Aceh.
Beranjak dari hal tersebut, Imran mendesak Wali Kota Pematangsiantar untuk peduli terhadap korban bencana. Lalu menggerakkan dukungan nyata berupa bantuan logistik maupun moril.
“Serta membuktikan diri, bahwa kepemimpinan adalah amanah nurani, bukan sekadar simbol kekuasaan,” tandas Imran. (*)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini