Info Market CPO
🗓 Update: Selasa, 5 Mei 2026 |14:54 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • LOCO NGABANG • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15260 14693 14800 15275 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
15075 14693 14700 15175 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • Segmen LOCO masih dalam tekanan harga
  • Belum ada transaksi pada beberapa titik lokasi
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Nasional

BMKG Modifikasi Cuaca di Enam Provinsi untuk Tekan Banjir

bmkg menggelar operasi modifikasi cuaca di enam provinsi sebagai langkah darurat menghadapi cuaca ekstrem.
BMKG menggelar Operasi Modifikasi Cuaca di enam provinsi sebagai langkah darurat menghadapi cuaca ekstrem. (Ilustrasi)

Sinata.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca di enam provinsi sebagai langkah darurat menghadapi cuaca ekstrem, dengan intervensi langsung terhadap awan hujan untuk menekan risiko banjir dan longsor di wilayah rawan.

BMKG kini mengintervensi pola hujan di enam provinsi sebagai upaya menekan risiko banjir dan longsor yang mengintai sejumlah wilayah rawan.

Advertisement

Operasi ini difokuskan pada pengendalian awan hujan sebelum memasuki kawasan daratan padat penduduk.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa timnya melakukan penyemaian awan sejak masih berada di wilayah perairan agar hujan turun lebih awal di area yang dinilai aman.

“Begitu awan konvektif terdeteksi bergerak menuju daratan, kami lakukan penyemaian dengan garam agar hujan dilepas di laut. Kalau awan sudah berada di atas wilayah padat seperti Jakarta, digunakan bahan lain untuk memecah awan sehingga potensi hujan lebat bisa ditekan,” kata Teuku Faisal, Selasa (16/12/2025).

Baca Juga  Prakiraan Cuaca, Waspadai Angin Kencang dan Petir di Sejumlah Wilayah

Baca Juga: Soal Hunian Korban Bencana, Prabowo: Tak Ada Alasan, Kalau Perlu Pakai Lahan PTPN

Menurutnya, teknologi modifikasi cuaca tidak semata-mata berfungsi mengurangi hujan.

Dalam kondisi tertentu, metode ini juga dapat dimanfaatkan untuk memicu hujan secara terkontrol sesuai kebutuhan wilayah.

Dari evaluasi awal, OMC yang diterapkan di enam provinsi tercatat mampu menekan intensitas curah hujan hingga kisaran 20 sampai 50 persen.

Saat ini, operasi modifikasi cuaca telah berlangsung di Jawa Barat dan Jawa Timur.

BMKG juga bersiap memperluas cakupan ke Lampung, serta membuka peluang pelaksanaan di Bali dan Jawa Tengah, bergantung pada perkembangan dinamika cuaca ekstrem yang terus dimonitor secara real time.

Baca Juga  HPN 2026, Pemerintah Dorong Pers Profesional dan Tangguh

Tak hanya fokus pada hujan, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan di bawah koordinasi Kementerian Perhubungan juga memperkuat sistem informasi cuaca terpadu.

Platform ini dirancang untuk mendukung keselamatan sektor transportasi darat, laut, dan udara, terutama saat cuaca buruk dan gelombang tinggi mengancam aktivitas penerbangan serta pelayaran.

Untuk jalur darat, pemantauan cuaca dilakukan di ruas-ruas utama guna memberikan gambaran kondisi hujan, mendung, atau cerah.

Data ini diharapkan menjadi rujukan penting bagi masyarakat dan pemangku kepentingan dalam menjaga kelancaran mobilitas di tengah cuaca yang tidak menentu.

Pilihan Editor: Trump Posisikan Fentanil sebagai Senjata Pemusnah Massal

Di sisi lain, BMKG kembali mengingatkan bahwa ancaman bencana di Indonesia tidak hanya datang dari atmosfer.

Baca Juga  Cuaca Tak Menentu, BPBD Pematangsiantar Sedot Parit Tersumbat dan Pangkas Pohon Rawan

Sepanjang tahun berjalan, tercatat lebih dari 40 ribu kejadian gempa bumi.

Dari jumlah tersebut, 917 gempa dirasakan langsung oleh masyarakat dan 24 di antaranya menyebabkan kerusakan.

Seluruh aktivitas kegempaan, potensi tsunami, hingga cuaca ekstrem dipantau melalui jaringan Unit Pelaksana Teknis BMKG yang tersebar di 191 wilayah.

Sistem ini diperkuat lebih dari 10 ribu peralatan utama, termasuk pemasangan lightning detector di 38 UPT untuk memetakan sebaran dan intensitas petir.

BMKG juga tengah mengembangkan sistem prakiraan berbasis dampak atau impact based forecasting, yang memungkinkan prediksi tidak hanya soal kapan dan di mana petir terjadi, tetapi juga potensi dampaknya bagi keselelamatan masyarakat. [a46]

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini