Pakpak Bharat, Sinata.id — Kabupaten Pakpak Bharat memasuki fase darurat bencana setelah cuaca ekstrem menghantam wilayah itu tanpa henti. Hujan deras menyebabkan sedikitnya 101 titik longsor, memutus akses jalan, merusak rumah warga, hingga menewaskan dua orang di kawasan Bulu Lidi, jalur utama menuju Subulussalam–Aceh.
Kedua korban meninggal setelah rumah mereka tertimbun tanah longsor, dan situasi di lokasi kejadian digambarkan sebagai “tak ada waktu untuk berlari”.
Peristiwa ini disampaikan langsung oleh Wakil Bupati Pakpak Bharat, Mustsyuhita Solin, pada Kamis, 27 November 2025, yang sejak awal sudah berada di lapangan mengoordinasikan penanganan darurat.
“Dua warga kita meninggal dunia tertimbun longsor. Tim sudah mengevakuasi korban, melakukan identifikasi, dan salah satu jenazah telah dikirim ke Tinggalingga untuk dikebumikan,” tegas Wakil Bupati Mustsyuhita Solin kepada Sinata.id.
Wilayah Terisolasi Total: Listrik Gelap, Komunikasi Putus, Jalan Terkepung Longsor
Daerah yang paling parah terdampak adalah:
* Sibagindar
* Kelasen
* lagan
* dan beberapa jalur strategis menuju Aceh
Di area-area ini warga mengaku:
* gelap gulita karena listrik padam total,
* tidak bisa berkomunikasi sama sekali,
* dan terkurung karena jalur masuk tertutup tanah longsoran.
“Pakpak Bharat ini dataran tinggi. Banjir tidak jadi ancaman, tapi tanah longsor adalah ancaman mematikan,” kata Solin.
Wakil Bupati Bertahan di Lapangan — Bupati Frans Bernhard Tumanggor Sudah 5 Hari di Jakarta
Ketika Sinata.id mencoba meminta penjelasan tentang keberadaan Bupati Pakpak Bharat, Frans Bernhard Tumanggor, Wakil Bupati Mustsyuhita Solin memberikan jawaban tegas:
“Bupati sudah lima hari berada di Jakarta. Karena itu saya yang siaga penuh di Pakpak Bharat sampai keadaan pulih.”
Situasi ini memunculkan pertanyaan keras dari masyarakat:
mengapa Kabupaten Pakpak Bharat sedang berduka, tetapi pucuk pimpinan daerah justru tidak berada di tempat?
*4 Ekskavator Disiagakan – 53 Desa Wajib Siaga 24 Jam*
Pemerintah daerah menyiapkan empat ekskavator untuk membuka akses yang tertutup longsor.
Sebanyak 53 desa diperintahkan siaga penuh.
Kepala desa dan camat diminta:
* memantau curah hujan,
* mengawasi pergerakan tanah
* dan segera melapor bila terjadi retakan atau longsoran kecil.
“Masyarakat harus cepat melapor ke kepala desa. Dari situ laporan akan dikirim ke tim kabupaten agar alat berat bisa langsung bergerak,” tegas Solin.
Untuk rumah warga yang rusak akibat bencana, Wakil Bupati menegaskan:
“Pemkab melalui Perkim BAKWIL sudah menyiapkan anggaran untuk tahap perbaikan rumah warga. Yang penting laporannya segera masuk.”
Kabupaten Pakpak Bharat yang memiliki Batalyon TNI 906 dengan 700 personel langsung mengerahkan prajuritnya untuk membantu:
* evakuasi warga,
* pembersihan material longsor,
* serta membuka akses ke desa-desa terisolasi.
*Imbauan Keras Wakil Bupati Mustsyuhita Solin*
“Jangan tunggu bencana susulan. Jika wilayah tidak aman, segera mengungsi ke rumah keluarga yang lebih aman. Nyawa lebih penting dari apa pun.”
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus siaga, walaupun bupati sedang berada di luar daerah. (SN8)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini