Sinata.id – Mahkamah Pidana Internasional (ICC) yang resmi mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Senator Ronald “Bato” Dela Rosa. Nama ini bukan sembarangan, ia adalah sosok kunci di balik perang berdarah melawan narkoba yang digagas mantan Presiden Rodrigo Duterte.
Kabar mengejutkan ini pertama kali dikonfirmasi langsung oleh Ombudsman Filipina, Jesus Crispin Remulla, dalam wawancara dengan stasiun radio DZRH, Sabtu (8/11/2025).
“ICC telah mengeluarkan surat perintah terhadap Senator Dela Rosa. Ini termasuk dalam pelanggaran yang dapat diekstradisi,” ujarnya.
Remulla, yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Kehakiman sebelum dilantik menjadi Ombudsman pada Oktober lalu, menegaskan bahwa ICC perlu mengajukan permintaan resmi kepada pemerintah Filipina untuk melakukan ekstradisi terhadap Dela Rosa.
Baca Juga: Setelah 14 Tahun Menanti, Timor Leste Akhirnya Resmi Masuk ASEAN
Sosok di Balik Perang Narkoba
Ronald Dela Rosa bukan nama asing dalam sejarah kelam perang narkoba Filipina.
Sebagai Kepala Kepolisian Nasional (PNP) pada periode 2016–2018, ia menjadi tangan kanan Duterte dalam operasi besar-besaran yang diklaim menewaskan ribuan orang.
Kampanye ini sempat menuai pujian dari sebagian masyarakat karena dinilai tegas terhadap bandar narkoba, namun di sisi lain menuai kritik tajam dari komunitas internasional karena dianggap mengabaikan prinsip hak asasi manusia.
Setelah purna tugas di kepolisian, Dela Rosa melangkah ke dunia politik dan sukses duduk di Senat Filipina.
Bahkan pada pemilu Mei lalu, ia kembali terpilih dan menempati posisi ketiga dari 12 kursi senat yang diperebutkan.
Duterte Sudah Ditahan di Belanda
Sementara itu, Rodrigo Duterte sendiri telah lebih dulu ditahan di Belanda sejak Maret lalu.
Mantan presiden yang dikenal dengan retorika keras itu kini menunggu persidangan atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Kasus tersebut mencakup dugaan pembunuhan di luar hukum yang dilakukan selama masa pemerintahannya.
Hingga berita ini diturunkan, Dela Rosa belum memberikan pernyataan resmi.
Namun, publik Filipina kembali dihadapkan pada babak baru drama politik dan hukum yang bisa mengguncang stabilitas pemerintahan negeri itu.
Sebelumnya, pada April lalu, hanya sebulan setelah penangkapan Duterte, Dela Rosa mengonfirmasi bahwa dirinya sudah menerima komunikasi dari ICC terkait dugaan keterlibatan dalam eksekusi di luar hukum terhadap pengguna narkoba dan beberapa individu lainnya. [a46]
penulis: zainal efendi
sumber: bloomberg










Jadilah yang pertama berkomentar di sini