Info Market CPO
🗓 Update: Selasa, 5 Mei 2026 |14:54 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • LOCO NGABANG • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15260 14693 14800 15275 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
15075 14693 14700 15175 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • Segmen LOCO masih dalam tekanan harga
  • Belum ada transaksi pada beberapa titik lokasi
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Nasional

3 Langkah Strategis Hadapi Krisis Pangan Dampak Perang Versi Riyono

3 langkah strategis hadapi krisis pangan dampak perang versi riyono
Riyono (ft: Parlementaria)

Jakarta, Sinata.id – Ketegangan geopolitik global yang dipicu konflik di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina dinilai semakin memperburuk kondisi ketahanan pangan dunia. Situasi ini memicu lonjakan harga dan ketidakpastian distribusi pangan global.

Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono, menilai konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, ditambah perang Rusia-Ukraina yang belum mereda, telah menciptakan tekanan besar terhadap keseimbangan pangan dunia.

Advertisement

Ia menyebut kondisi ini sebagai ancaman serius yang berpotensi memicu krisis berkepanjangan.

Menurutnya, upaya global dalam mengatasi kelaparan belum menunjukkan hasil optimal.

Program Millennium Development Goals (MDGs) dinilai gagal menekan angka kelaparan, dengan sekitar satu miliar penduduk dunia masih berada dalam ancaman krisis pangan.

Baca Juga  Bangsa Berduka, Ketua DPR RI Kenang Try Sutrisno

Bahkan, target Sustainable Development Goals (SDGs) untuk mengakhiri kelaparan pada 2030 dinilai terancam tidak tercapai.

Riyono menjelaskan, situasi geopolitik yang tidak stabil mendorong negara-negara produsen pangan untuk lebih memprioritaskan kebutuhan dalam negeri.

Hal itu berdampak pada terganggunya distribusi global, sehingga ketersediaan menurun sementara permintaan terus meningkat.

Ia juga menyoroti perubahan fungsi pangan yang kini tidak sekadar kebutuhan dasar, tetapi telah menjadi instrumen politik global. Kondisi ini, menurutnya, kerap merugikan negara berkembang dan para petani sebagai produsen utama.

Dalam menghadapi potensi krisis tersebut, Riyono mengusulkan tiga langkah strategis bagi Indonesia. Pertama, memperkuat ketersediaan pangan sebagai fondasi utama kedaulatan nasional, termasuk menjaga kualitas dan pengelolaan cadangan beras yang saat ini mencapai jutaan ton.

Baca Juga  Jalan Rusak di Tanah Datar Disorot, DPR Desak Perbaikan Cepat

Kedua, meningkatkan perlindungan terhadap petani melalui kebijakan harga yang menguntungkan serta skema perlindungan seperti asuransi pertanian, guna mengantisipasi risiko gagal panen akibat perubahan iklim.

Ketiga, memastikan anggaran sektor pertanian dan perikanan tetap terjaga. Ia menegaskan pentingnya mempertahankan bahkan menambah alokasi anggaran guna memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah ancaman krisis global.

Riyono menekankan, langkah-langkah tersebut diperlukan agar Indonesia mampu menjaga stabilitas pangan dalam negeri. Ia mengingatkan bahwa negara harus hadir untuk memastikan ketersediaan pangan tetap terjangkau hingga ke seluruh wilayah, termasuk daerah terpencil. (A18)

Sumber: Parlementaria

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini