Sinata.id β Pemerintah memastikan langkah percepatan penanganan warga terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang terus berjalan. Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan pembangunan hunian sementara atau huntara di wilayah tersebut tuntas dan siap dihuni pada 10 Januari 2026, seiring progres lapangan yang kini telah menembus sekitar 75 persen.
Huntara yang dibangun di Gampong Bundar itu dirancang sebagai solusi cepat agar warga tak berlama-lama bertahan di tenda darurat. Saat ini, pembangunan difokuskan pada penyelesaian tujuh blok utama hunian modular yang disiapkan untuk menampung ratusan penyintas bencana.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan kementeriannya memberikan dukungan penuh terhadap penanganan bencana yang dikoordinasikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Menurutnya, kehadiran huntara menjadi bagian penting dalam fase transisi dari kondisi darurat menuju pemulihan.
βKami berkomitmen mendukung penuh BNPB. Huntara ini dibangun agar masyarakat terdampak segera menempati hunian yang lebih layak, aman, dan bermartabat. Tidak hanya tempat tinggal, kawasan ini juga dilengkapi air bersih serta sanitasi,β ujar Dody dalam keterangan pers, Selasa (6/1/2026).
Baca Juga:Β Beijing Tutup Keran Produk Dwiguna ke Tokyo, Pasar Jepang Langsung Terguncang
Ia menjelaskan, huntara tersebut terdiri dari tujuh blok bangunan modular, dengan kapasitas 12 kepala keluarga (KK) di setiap blok. Dari total blok yang dibangun, satu blok di bagian depan lokasi masih difungsikan sementara sebagai area penyimpanan material karena posisinya yang berbatasan langsung dengan jalan.
Secara keseluruhan, kawasan huntara Aceh Tamiang dirancang untuk menampung sekitar 84 KK atau setara 336 jiwa dalam satu lokasi terpadu. Setiap blok diproyeksikan dapat menampung hingga 48 orang, dengan pembagian ruang yang disesuaikan kebutuhan keluarga.
Untuk menunjang kehidupan warga selama masa tinggal sementara, pemerintah juga menyiapkan berbagai fasilitas pendukung. Mulai dari toilet komunal, jaringan listrik dan pencahayaan, hingga sistem air bersih dan sanitasi yang dirancang agar memenuhi standar kesehatan dasar.
Dari sisi konstruksi, huntara menggunakan sistem modular dengan rangka baja ringan. Model ini dipilih karena dinilai kokoh, cepat dibangun, dan relatif nyaman bagi penghuni. Pekerjaan dilakukan secara bertahap, mencakup pembangunan pondasi, pemasangan rangka dan dinding, atap baja ringan, hingga instalasi mekanikal, elektrikal, dan plumbing.
Dody menegaskan, pembangunan huntara ini merupakan bentuk nyata kehadiran negara di tengah masyarakat yang terdampak bencana. Sebelumnya, warga harus bertahan di tenda pengungsian dengan ruang terbatas dan fasilitas yang minim.
βDengan tersedianya huntara, kami berharap masyarakat bisa menjalani masa pemulihan dengan kondisi yang jauh lebih baik sambil menunggu solusi hunian permanen,β tutupnya. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini