Pematangsiantar, Sinata.id – Universitas Nommensen Siantar menggelar kuliah umum bertajuk politik ekologi, industri ekstraktif dan krisis iklim di Indonesia.
Kegiatan tersebut di gelar di ruangan Menza kampus, Jalan Sangnaualuh, Kelurahan Siopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur, Jumat (28/11/2025).
Rektor UHKBPNP, Muktar Panjaitan, menjelaskan jika mahasiswa merupakan generasi penerus nantinya yang diharapkapkan menjadi pemikir kritis dalam menghadapi krisis iklim di Indonesia.
“Ini adalah momen yang penting, supaya kita tidak hanya diam, tidak hanya berpikir tapi sudah waktunya untuk bertindak,” ucapnya.
Lanjutnya, salah satu yang menjadi persoalan dunia saat ini yaitu perubahan iklim. Ia mengungkapkan perubahan iklim yang terjadi dalam tiga hari ini.
“Dapat kita rasakan bersama, dalam tiga hari ini terjadi siklon tropis senyar di daerah kita ini,” ujarnya.
Menurut Muktar, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika sudha mengeluarkan peringatan dini tentang cuaca ekstrem yang terjadi pada 22 hinga 27 November 2025.
“Hujan adalah berkata tapi gelondongan kayu adalah akibat kerakusan dan keserakahan oleh politik ekologi yang tidak berpihak pada masyarakat,” tuturnya.
Ia menyesalkan pihak korporasi yang merusak alam yang sebenarnya tindakan itu tidak dibenarkan.
Selain itu, eksploitasi yang terjadi atas dasar dalil untuk pembangunan, merambah hutan seluas – luasnya, merubah hutan menjadi kelapa sawit, seperti yang terjadi pada kebun teh Sidamanik.
Muktar mengajak setiap orang untuk ikut serta dalam pelestarian alam yang dilakukan secara berkelanjutan. Ia memaparkan kuliah umum ini merupakan salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan tersebut merupakan wujud kerja sama antara UHKBPNP, GAMKI Pematangsiantar, LWF, Biro Pengmas HKBP, KNLWF, YDPK dan UEM. (*)
Penulis : Hendrik Nainggolan









Jadilah yang pertama berkomentar di sini