MENU
Banner SINATA.ID
Trump Umumkan Kesepakatan dengan Iran, Selat Hormuz Dibuka Kembali
WA FB

Trump Umumkan Kesepakatan dengan Iran, Selat Hormuz Dibuka Kembali

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran untuk mengakhiri permusuhan di antara kedua negara, sebuah momen yang ia rayakan.

T Editor : Tigor Munthe 15 Jun 2026 | 12:05 WIB
Trump Umumkan Kesepakatan dengan Iran, Selat Hormuz Dibuka Kembali
Trump. (Foto: Aljazeera)

Washington, Sinata.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran untuk mengakhiri permusuhan di antara kedua negara, sebuah momen yang ia rayakan bertepatan dengan hari ulang tahunnya.

Dalam unggahan di media sosialnya, Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka untuk pelayaran komersial dan AS akan mencabut blokade lautnya. "Biarkan minyak mengalir!" tulisnya.

Trump mengklaim keberhasilan ini melampaui presiden-presiden AS sebelumnya, menyebut kesepakatan ini sebagai "perjanjian besar" yang akan membawa "perdamaian dan keamanan bagi seluruh kawasan."

Wakil Presiden JD Vance dalam wawancara dengan Fox News menegaskan bahwa larangan Iran memiliki senjata nuklir sudah "tertuang dalam perjanjian ini" dan AS akan mampu memverifikasi kepatuhannya. 

Namun sejumlah pertanyaan krusial masih menggantung, termasuk batasan pengayaan uranium dan nasib stok uranium yang telah diperkaya Iran selama ini.

Kedua pihak sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari untuk menyelesaikan perundingan teknis lanjutan. 

Namun pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyebut bahwa "negosiasi final akan ditunda hingga pihak lain memenuhi komitmennya," sebuah sinyal bahwa jalan masih panjang.

Di sisi ekonomi, para pakar pasar energi memperingatkan bahwa arus minyak melalui selat tersebut tidak akan langsung kembali ke level sebelum perang. 

Pembersihan ranjau laut, antrean kapal tanker yang menumpuk, serta pemulihan produksi minyak diperkirakan membutuhkan waktu beberapa pekan.

Faktor lain yang membayangi kesepakatan ini adalah Israel. Trump mengaku marah kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu karena memerintahkan serangan ke Lebanon akhir pekan lalu yang hampir menggagalkan perjanjian yang nyaris rampung itu. 

Kesepakatan akhirnya tetap bertahan untuk diumumkan, namun ancaman operasi militer Israel di Lebanon tetap menjadi risiko yang bisa kembali menutup Selat Hormuz dan mengguncang perekonomian global.

Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan politik yang kian besar. 

Survei YouGov menunjukkan 63% warga AS tidak puas dengan penanganannya terhadap ekonomi, sementara 57% merasa kondisi ekonomi semakin memburuk. 

Vance berjanji harga energi akan mulai turun, namun seberapa cepat hal itu berdampak pada dompet warga Amerika akan sangat menentukan nasib Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu November mendatang. (A08)

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.