Sinata.id β Sudah dua pekan berlalu sejak banjir bandang dan longsor menghantam wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah. Namun derita warga justru belum mereda.
Akses jalan utama terputus, jembatan ambruk, dan ribuan penduduk terisolasi tanpa kepastian kapan bantuan bisa menjangkau mereka.
Di sejumlah titik, listrik masih padam. Sinyal komunikasi hilang-timbul. Harga bahan bakar melonjak drastis, bahkan dilaporkan menembus Rp100 ribu per liter.
Situasi ini membuat aktivitas warga lumpuh total, sementara kebutuhan dasar kian sulit dipenuhi.
Yang paling memprihatinkan, ribuan warga di pedalaman kini berada di ambang krisis pangan.
Stok beras menipis, air bersih sulit didapat, dan distribusi bantuan tersendat akibat jalur darat yang tertutup longsoran serta jembatan yang tidak lagi bisa dilalui kendaraan.
Baca Juga:Β Bupati Aceh Selatan Diberhentikan Sementara Akibat Pergi Umrah di Tengah Bencana
Terputusnya akses logistik membuat bantuan darurat tak kunjung tiba ke desa-desa terisolasi.
Kondisi ini meningkatkan risiko kelaparan, terutama bagi kelompok rentan seperti balita, lansia, dan ibu hamil.
Seorang aktivis kemanusiaan di Bener Meriah, Cak Dier, yang aktif memantau dampak bencana, menyebut situasi di lapangan jauh lebih serius dari yang terlihat di permukaan.
Ia mengaku menerima banyak keluhan warga terkait bantuan yang belum mereka rasakan.
βLaporan dari warga menyebutkan kebutuhan pokok belum sampai ke tempat mereka. Ini harus segera ditelusuri,β ujarnya, Selasa (9/12/2025).
Ia mendesak aparat berwenang melakukan penelusuran menyeluruh dan bertindak tegas apabila ditemukan penyimpangan dalam penyaluran bantuan.
Informasi dihimpun, kondisi infrastruktur nyaris lumpuh.
Jalan-jalan tertutup lumpur tebal, material longsor masih menimbun badan jalan, dan kendaraan nyaris tak bisa melintas.
Tak hanya pangan, akses ke layanan kesehatan pun menjadi persoalan serius.
Baca Juga:Β Bupati Bireuen Siang Malam Turun ke Pengungsian, Pastikan Korban Banjir Tak Kelaparan
Tim BPBD bersama relawan menghadapi tantangan berat untuk menjangkau wilayah terpencil.
Keterbatasan alat berat, medan ekstrem, serta cuaca yang belum bersahabat memperlambat proses pembukaan jalur.
Akibatnya, banyak warga terpaksa berjalan kaki berkilo-kilometer untuk mencari bantuan atau menuju posko pengungsian.
Di Kecamatan Permata, warga dari Desa Kem harus menempuh perjalanan berjam-jam melalui jalur tanjakan licin dan berlumpur demi mencapai Desa Buntul.
Jalur itu menjadi satu-satunya akses setelah jalan utama terputus akibat longsor.
Kisah lain datang dari seorang ibu hamil yang terpaksa ditandu menyeberangi lereng gunung terjal karena jembatan penghubung desa runtuh.
Untuk mencapai puskesmas terdekat, warga harus berjalan kaki hingga puluhan kilometer, dengan waktu tempuh mencapai sepuluh jam.
Di tengah keterbatasan dan ancaman kelaparan, warga hanya berharap satu hal: bantuan segera tiba sebelum krisis ini memakan korban lebih banyak.
Situasi darurat ini menuntut respons cepat, terkoordinasi, dan transparan agar nyawa ribuan warga di pedalaman Aceh tidak terus dipertaruhkan oleh waktu dan keterisolasian. [a46]










Jadilah yang pertama berkomentar di sini