Sinata.id – Operasi tambang emas Martabe milik PT Agincourt Resources Martabe Gold Mine (PTAR) resmi terhenti total. Bukan karena kerusakan teknis, tetapi karena seluruh tenaga dan peralatan berat perusahaan dialihkan untuk menolong ribuan warga yang terjebak bencana banjir bandang di Sumatra Utara.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan penghentian operasional ini.
Juru bicara ESDM, Dwi Anggia, menegaskan bahwa PTAR kini mengerahkan “full team”, bukan untuk menambang, melainkan untuk mengevakuasi, menyalurkan makanan, pakaian, dan membuka akses jalan yang terputus.
“Aktivitas tambang dihentikan sementara. Fokus mereka sekarang penuh untuk membantu masyarakat terdampak. Posko pengungsian saja masih sangat terbatas, jadi semua tenaga dikerahkan ke lapangan,” kata Anggia, Jumat (5/12/2025), di Gedung ESDM.
Baca Juga: ESDM Sisir 23 Izin Tambang di Sumatera Usai Banjir Bandang
Peninjauan Menteri ESDM: Banjir Bukan Berasal dari Area Tambang
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang turun langsung ke lokasi tambang, menemukan fakta menarik, bahwa banjir bandang tidak bersumber dari area eksploitasi Martabe.
Pusat terjangan air justru berada di Sungai Garoga, yang posisinya berada jauh di bawah area tambang.
Anggia menyebut, dari pemantauan udara terlihat memang ada bukaan lahan di kawasan tambang, hal yang wajar karena proses eksploitasi masih berjalan, namun tidak ditemukan jejak banjir di sekitar area operasi.
“Kalau dari atas, wilayah tambang aman. Banjir terjadi di Sungai Garoga, wilayah perbatasan Tapsel–Tapteng. Di sekitar area tambang tidak terlihat genangan atau aliran banjir,” jelasnya.
Baca Juga: Korban Tewas Banjir-Longsor Sumatera Tembus 893 Jiwa, Ratusan Masih Hilang
Alat Berat Hingga Helikopter Dikerahkan
PTAR sendiri mengakui telah melakukan penyesuaian besar dalam operasional.
Senior Manager Corporate Communications PTAR, Katarina Siburian Hardono, menyebut sekitar 10 ekskavator dan backhoe loader dipindahkan dari kegiatan tambang untuk membuka kembali ruas jalan yang tertutup longsor.
Helikopter perusahaan juga bolak-balik mengangkut bantuan darurat ke daerah yang tak bisa diakses lewat jalur darat.
“Operasional disesuaikan sampai kondisi benar-benar kondusif. Saat ini fokus utama kami adalah tanggap darurat,” ujar Katarina.
Ia enggan menjelaskan dampak penghentian operasi terhadap volume produksi emas, namun menegaskan bahwa perusahaan tetap transparan dan kooperatif dalam proses verifikasi pemerintah.
Pilihan Editor: Bank Sentral India Pangkas Suku Bunga di Tengah Rupee Terpuruk
Walhi Menuding Buka Lahan 300 Ha Perparah Banjir, PTAR Membantah
Di luar itu, tekanan datang dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatra Utara.
Organisasi lingkungan tersebut menuduh aktivitas tambang Martabe telah mengurangi tutupan hutan hingga 300 hektare, serta menempatkan fasilitas limbah tambang terlalu dekat dengan Sungai Aek Pahu.
Walhi juga menerima keluhan warga yang menyebut air sungai menjadi keruh sejak beroperasinya Pit Ramba Joring pada 2017.
Namun PTAR menolak tegas tudingan tersebut.
Dalam pernyataan resminya, perusahaan menyebut banjir bandang berasal dari sumbatan material kayu gelondongan di dua jembatan, Garoga I dan Anggoli I, yang menyebabkan perubahan mendadak pada alur sungai hingga menerjang Desa Garoga.
“Mengaitkan operasional tambang dengan banjir Garoga adalah kesimpulan prematur dan tidak tepat,” tegas manajemen PTAR.
Perusahaan menambahkan, wilayah operasinya berada di DAS Aek Pahu, sedangkan banjir terjadi di DAS Garoga, dua aliran berbeda yang baru bertemu jauh di hilir.
Untuk sementara, Martabe berubah fungsi. Dari kawasan industri tambang, kini menjadi pusat logistik dan bantuan bagi desa-desa yang luluh lantak diterjang air dan longsor.
Sementara itu, pemerintah memastikan evaluasi terus dilakukan, termasuk memantau aktivitas pertambangan di sekitar lokasi bencana untuk memastikan kepatuhan terhadap prinsip good mining practice. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini