Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 7 Mei 2026 |18:20 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 1K DMI • LOCO PARINDU • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14455 (MNA) 14600 (PBI) 15000 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 1K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Harga relatif stabil pada transaksi DMI
  • Selisih harga antar bidder sangat tipis
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Sains & Teknologi

Studi Ungkap Peran Dokter dalam Eksplorasi Antariksa dan Misi Astronot

studi ungkap peran dokter dalam eksplorasi antariksa dan misi astronot
The International Space Station (ISS). (reuters)

Pematangsiantar, Sinata.id — Sebuah studi terbaru di bidang kedokteran antariksa menyoroti kontribusi signifikan para dokter dalam mendukung eksplorasi luar angkasa.

Penelitian ini menunjukkan bahwa keahlian medis memiliki peran penting dalam misi antariksa, baik untuk kesehatan astronot maupun pengembangan teknologi yang berdampak di Bumi.

Advertisement

Studi tersebut dipimpin oleh Farhan M. Asrar, seorang dokter asal Kanada yang dikenal luas dalam bidang kedokteran antariksa. Ia telah bekerja sama dengan berbagai ahli dan astronot dari sejumlah badan antariksa dunia.

Penelitian berjudul “Dari Sisi Tempat Tidur ke Orbit: Dampak Abadi Dokter-Astronot selama Enam Dekade Eksplorasi Ruang Angkasa” yang dipublikasikan dalam Journal of the Royal Society of Medicine ini mengkaji peran dokter dalam perkembangan eksplorasi luar angkasa selama lebih dari enam dekade.

Peran Strategis Dokter dalam Misi Antariksa

Menurut Asrar, penelitian ini menandai dua tonggak penting, yakni lebih dari 60 tahun sejak dokter pertama menjadi astronot serta sejak NASA mulai merekrut tenaga medis sebagai bagian dari kru antariksa.

Baca Juga  Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026: Ini Penyebab Bulan Merah dan Jadwal Puncaknya

Sejak saat itu, puluhan dokter dari berbagai negara telah terlibat sebagai astronot. Studi ini juga menghadirkan basis data komprehensif pertama yang mendokumentasikan seluruh dokter-astronot di dunia, baik yang masih aktif maupun yang telah menyelesaikan misi.

Asrar menjelaskan bahwa dokter memiliki keunggulan alami yang selaras dengan kebutuhan misi luar angkasa. Kemampuan berpikir ilmiah, mengambil keputusan dalam tekanan tinggi, serta mengelola ketidakpastian menjadi faktor penting dalam keberhasilan astronot.

“Dokter terbiasa bekerja dalam kondisi kompleks dan berisiko tinggi, sehingga keterampilan tersebut sangat relevan dengan tuntutan misi antariksa,” ujarnya.

Integrasi Ilmu Medis dan Teknologi Antariksa

Selain mendukung misi luar angkasa, penelitian ini juga menyoroti bagaimana teknologi antariksa dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan layanan kesehatan, kesehatan masyarakat, hingga pelestarian lingkungan di Bumi.

Asrar menegaskan bahwa pengembangan misi jarak jauh menjadi motivasi utama dalam penelitian ini, terutama untuk memahami bagaimana tenaga medis dapat berkontribusi dalam perjalanan antariksa jangka panjang.

Baca Juga  OriginOS 6 Bikin Vivo Makin Cerdas! Resmi Meluncur 15 Oktober 2025

Prestasi Dokter-Astronot

Studi ini juga mengungkap sejumlah pencapaian luar biasa yang diraih oleh dokter-astronot. Beberapa di antaranya meliputi rekor penerbangan luar angkasa terlama serta aktivitas berjalan di luar angkasa (extravehicular activity/EVA) terbanyak dalam satu misi.

Selain itu, satu-satunya astronot yang pernah terbang dengan seluruh armada pesawat ulang-alik milik NASA juga berasal dari kalangan dokter.

Penelitian ini turut menyoroti peran inklusif dalam dunia antariksa, termasuk pemilihan parastronaut pertama oleh European Space Agency, yaitu John McFall dari Inggris yang juga berprofesi sebagai dokter.

Kontribusi Perempuan dan Kolaborasi Global

Asrar juga menekankan peran penting perempuan dalam eksplorasi antariksa. Banyak astronot perempuan pertama dari berbagai negara dan kawasan dunia diketahui berasal dari latar belakang medis.

Penelitian ini melibatkan kolaborasi internasional dengan penulis dari berbagai badan antariksa, termasuk European Space Agency, Canadian Space Agency, Japan Aerospace Exploration Agency, serta badan antariksa lainnya.

Baca Juga  Berapa Jam Tidur Ideal untuk Perempuan? Ini Penjelasan Berdasarkan Usia

Menurut Asrar, kerja sama lintas negara menjadi kunci dalam pengembangan eksplorasi luar angkasa, sebagaimana terlihat dalam proyek seperti International Space Station.

“Eksplorasi luar angkasa menunjukkan bahwa kolaborasi global dapat menyatukan berbagai negara dalam satu tujuan bersama,” katanya.

Peluang bagi Dunia Medis

Melalui penelitian ini, Asrar mendorong para profesional medis untuk mempertimbangkan peluang di sektor antariksa. Meski kesempatan menjadi astronot masih terbatas, bidang kedokteran antariksa menawarkan banyak peluang riset dan pengembangan.

Ia juga mengimbau lembaga antariksa di berbagai negara untuk membuka peluang lebih luas bagi tenaga medis dalam program seleksi astronot di masa depan.

Dengan meningkatnya rencana misi jarak jauh, peran dokter diprediksi akan semakin krusial dalam memastikan keselamatan dan kesehatan manusia di luar Bumi. (A02)

 

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini