Oleh: Pdt Dr Gilbert Lumoindong, M.Th
Salib bagi umat Kristen bukan sekadar simbol religius, melainkan pusat keselamatan yang menyatakan kasih, pengharapan, dan kemenangan Kristus. Namun Alkitab juga mengingatkan bahwa tidak semua orang yang mengaku percaya benar-benar hidup dalam makna salib tersebut. Rasul Paulus dalam Filipi 3:17–4:1 menegaskan adanya orang-orang yang disebut sebagai “seteru salib Kristus”.
Peringatan itu tidak hanya ditujukan kepada mereka yang secara terang-terangan menolak iman Kristen, tetapi juga kepada orang yang mengaku percaya, namun hidupnya tidak sejalan dengan pengorbanan Kristus. Paulus menulis dengan nada sedih bahwa ada orang yang hidup menurut hawa nafsu, menjadikan perkara dunia sebagai tujuan utama, dan tidak lagi berpegang pada panggilan surgawi.
Dalam konteks kehidupan modern, peringatan ini tetap relevan. Banyak orang beragama secara formal, namun nilai-nilai kasih, pengampunan, kerendahan hati, dan pengorbanan yang diajarkan salib tidak tercermin dalam perilaku sehari-hari. Iman hanya menjadi identitas, bukan transformasi hidup.
Secara teologis, seteru salib dapat dipahami dalam beberapa sikap. Pertama, mereka yang tidak peduli dengan kuasa salib, menganggapnya sekadar simbol tanpa makna. Kedua, mereka yang tetap hidup dalam dosa meski telah mengetahui kebenaran. Ketiga, orang yang tidak siap memikul salib, artinya menolak pengorbanan, kesetiaan, dan ketaatan kepada Tuhan. Keempat, mereka yang tidak menjadikan Kristus sebagai tujuan hidup, melainkan mengejar kepentingan dunia semata.
Pesan Paulus menegaskan bahwa identitas orang percaya bukan hanya soal pengakuan iman, tetapi juga soal cara hidup. Ia mengajak jemaat untuk meneladani hidup yang berfokus pada Kristus, serta berdiri teguh dalam Tuhan. Sikap itu menjadi bukti nyata bahwa seseorang benar-benar hidup dalam kuasa salib, bukan menjadi seterunya.
Di tengah kehidupan bangsa yang plural, pesan ini juga mengandung nilai universal. Salib mengajarkan kasih, pengampunan, dan pengorbanan, nilai-nilai yang relevan untuk membangun kehidupan sosial yang damai dan berkeadilan. Ketika iman diwujudkan dalam perbuatan, maka kehadiran orang beriman akan menjadi berkat bagi lingkungan dan masyarakat luas.
Salib bukan lambang penderitaan semata, melainkan tanda kemenangan kasih Allah bagi manusia. Karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk hidup selaras dengan pengorbanan Kristus, bukan sekadar menyebut nama-Nya, melainkan mengikuti jalan-Nya.
Pada akhirnya, firman Tuhan mengingatkan: “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga” (Filipi 3:20), maka hidup orang percaya seharusnya memancarkan nilai-nilai salib, sehingga iman tidak berhenti di pengakuan, tetapi nyata dalam perbuatan. (A27)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini