Jakarta, Sinata.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampak serius saat berbicara di hadapan jajaran Direktorat Jenderal Pajak. Bukan sekadar pengarahan rutin, Purbaya menyampaikan pesan yang terdengar personal: capaian penerimaan pajak tahun depan bisa menentukan nasib politiknya.
Ia menekankan pentingnya kerja ekstra untuk mengejar target penerimaan negara 2026. Pasalnya, kinerja pajak tahun sebelumnya belum sepenuhnya memenuhi harapan.
Sepanjang 2025, penerimaan pajak tercatat Rp 1.917,6 triliun, atau baru sekitar 87,6 persen dari target Rp 2.189,3 triliun.
Angka tersebut menjadi pijakan berat menuju sasaran baru. Untuk 2026, pemerintah membidik penerimaan pajak sebesar Rp 2.357,7 triliun—melonjak Rp 440,1 triliun atau sekitar 22,9 persen dibanding realisasi tahun lalu.
Purbaya pun meminta seluruh pegawai pajak mengencangkan ikat pinggang kinerja.
Tak hanya nominal penerimaan, mantan Ketua Dewan Komisioner LPS itu juga menyoroti rasio koleksi pajak. Ia berharap tax collection rate yang selama ini berada di kisaran 9 persen bisa terdongkrak hingga 11–12 persen dalam waktu dekat.
“Saya berharap ada perbaikan signifikan. Tahun ini kalau bisa naik ke 11–12 persen, tahun depan kita benahi lagi. Ini jelas misi berat bagi pajak,” ujar Purbaya.
Tekanan yang dirasakan Purbaya tak berhenti di angka-angka. Ia mengaku beberapa waktu terakhir sulit memejamkan mata, memikirkan kondisi keuangan negara di tengah sorotan tajam publik terhadap integritas DJP dan Bea Cukai.
Apalagi, Presiden Prabowo Subianto disebut terus memantau potensi kebocoran penerimaan negara.
Menurut Purbaya, isu praktik selisih harga atau underinvoicing kerap disinggung Presiden dalam berbagai pertemuan.
“Jangan sampai Presiden masih harus mengumumkan kebocoran seperti ini. Soal underinvoicing itu sering beliau sampaikan di setiap rapat,” katanya.
Meski ada kekhawatiran, Purbaya tetap menyimpan optimisme. Pemulihan ekonomi yang mulai terasa sejak triwulan IV-2025 diyakininya bisa menjadi penopang penerimaan pajak ke depan.
Dengan catatan, momentum pertumbuhan ekonomi tersebut diiringi pembenahan internal yang konsisten.
Harapannya sederhana namun krusial: ekonomi bergerak, pajak menguat, dan APBN tetap aman. (A18)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini