Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 4 Mei 2026 |15:05 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15415 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15145 EUP ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15198 (PRISCOLIN) 15097 (PAA) 15100 (AGM) 15215 PRISCOLIN ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14875 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14850 14589 (MNA) 14600 (PBI) 14965 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15035 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • PRISCOLIN unggul pada FOB TDUKU
  • Segmen LOCO masih cenderung melemah dan belum merata
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Ekonomi & Bisnis

Secara Politis, Target Pajak 2026 Bisa Mengancam Jabatan Purbaya

peraturan diubah, 58 persen dana desa tahun 2026 wajib ke koperasi merah putih
Pubaya

Jakarta, Sinata.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampak serius saat berbicara di hadapan jajaran Direktorat Jenderal Pajak. Bukan sekadar pengarahan rutin, Purbaya menyampaikan pesan yang terdengar personal: capaian penerimaan pajak tahun depan bisa menentukan nasib politiknya.

Ia menekankan pentingnya kerja ekstra untuk mengejar target penerimaan negara 2026. Pasalnya, kinerja pajak tahun sebelumnya belum sepenuhnya memenuhi harapan.

Advertisement

Sepanjang 2025, penerimaan pajak tercatat Rp 1.917,6 triliun, atau baru sekitar 87,6 persen dari target Rp 2.189,3 triliun.

Angka tersebut menjadi pijakan berat menuju sasaran baru. Untuk 2026, pemerintah membidik penerimaan pajak sebesar Rp 2.357,7 triliun—melonjak Rp 440,1 triliun atau sekitar 22,9 persen dibanding realisasi tahun lalu.

Baca Juga  Presiden Prabowo Instruksikan Audit Total PT TPL, Dituding Penyebab Bencana di Sumut

Purbaya pun meminta seluruh pegawai pajak mengencangkan ikat pinggang kinerja.

Tak hanya nominal penerimaan, mantan Ketua Dewan Komisioner LPS itu juga menyoroti rasio koleksi pajak. Ia berharap tax collection rate yang selama ini berada di kisaran 9 persen bisa terdongkrak hingga 11–12 persen dalam waktu dekat.

“Saya berharap ada perbaikan signifikan. Tahun ini kalau bisa naik ke 11–12 persen, tahun depan kita benahi lagi. Ini jelas misi berat bagi pajak,” ujar Purbaya.

Tekanan yang dirasakan Purbaya tak berhenti di angka-angka. Ia mengaku beberapa waktu terakhir sulit memejamkan mata, memikirkan kondisi keuangan negara di tengah sorotan tajam publik terhadap integritas DJP dan Bea Cukai.

Baca Juga  Harga LPG Non-Subsidi Naik Mulai 18 April 2026, Ini Rincian Terbarunya

Apalagi, Presiden Prabowo Subianto disebut terus memantau potensi kebocoran penerimaan negara.
Menurut Purbaya, isu praktik selisih harga atau underinvoicing kerap disinggung Presiden dalam berbagai pertemuan.

“Jangan sampai Presiden masih harus mengumumkan kebocoran seperti ini. Soal underinvoicing itu sering beliau sampaikan di setiap rapat,” katanya.

Meski ada kekhawatiran, Purbaya tetap menyimpan optimisme. Pemulihan ekonomi yang mulai terasa sejak triwulan IV-2025 diyakininya bisa menjadi penopang penerimaan pajak ke depan.

Dengan catatan, momentum pertumbuhan ekonomi tersebut diiringi pembenahan internal yang konsisten.
Harapannya sederhana namun krusial: ekonomi bergerak, pajak menguat, dan APBN tetap aman. (A18)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini