Info Market CPO
🗓 Update: Jumat, 8 Mei 2026 |15:34 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • LOCO NGABANG • LOCO KEMBAYAN • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (TON) 15131 (AGM) 15275 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15100 (IMT/KJA) 15131 (AGM) 15275 KJA ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO NGABANG
14782 14675 (MNA) 14500 (PBI) 14925 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO KEMBAYAN
14772 14525 (MNA) 14400 (PBI) 14825 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14600 (MNA) 14500 (PBI) 14925 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP masih mendominasi pada beberapa titik LOCO
  • Persaingan harga di DMI berlangsung ketat
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Nasional

Saat Stok Beras Melimpah, DPR Dorong Peta Jalan Ekspor

saat stok beras melimpah, dpr dorong peta jalan ekspor
Alex Indra Lukman

Jakarta, Sinata.id – Suasana hangat pertemuan para penyuluh pertanian di Padang, Sumatera Barat, Sabtu (7/3/2026), tak hanya diisi silaturahmi dan buka puasa bersama. Di tengah pertemuan itu, muncul pembahasan serius tentang masa depan beras Indonesia.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, menilai pemerintah perlu segera menyiapkan peta jalan ekspor beras. Langkah itu dianggap penting menyusul melimpahnya stok beras nasional yang tercatat mencapai 3,53 juta ton hingga akhir Desember 2025.

Advertisement

Menurut Alex, peningkatan produksi harus diimbangi dengan strategi pemasaran yang jelas. Tanpa perencanaan matang, kelebihan stok beras berpotensi menjadi persoalan baru bagi sektor pangan nasional.

Baca juga: Komsi III DPR RI Dorong Restorative Justice untuk Kasus Nabila O’Brien

“Tantangan kita sekarang adalah bagaimana menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan kualitas beras, sehingga mampu bersaing dengan negara produsen lain dalam merebut pasar global,” ujarnya, Senin (9/3/2026).

Baca Juga  Agar Program Tidak Berubah-ubah, MBG Perlu Payung Hukum yang Jelas

Di hadapan para penyuluh, Alex juga menyinggung inovasi yang lahir dari petani Sumatera Barat. Seorang petani inovatif, Ir. Djoni, memperkenalkan metode Sawah Pokok Murah yang dinilai mampu menekan biaya produksi secara signifikan.

Metode tersebut telah diuji coba di berbagai kabupaten dan kota di Sumbar. Hasil panennya disebut tidak kalah dibanding metode konvensional, meskipun tidak melalui proses pengolahan tanah yang biasanya menjadi komponen biaya terbesar dalam bercocok tanam.

Selain itu, metode ini tidak membutuhkan pupuk kimia maupun penyemprotan pestisida dan fungisida. Bahkan dalam kondisi kemarau, sistem ini tetap dinilai cukup tangguh sehingga dapat mengurangi risiko gagal panen.

Alex menilai inovasi seperti ini menjadi contoh penting bagi upaya efisiensi produksi beras nasional. Ia juga mengingatkan bahwa meskipun wilayah Sumatera Barat didominasi topografi perbukitan dengan lahan sawah terbatas, daerah tersebut telah lama mampu mencapai swasembada beras.

Baca Juga  Pemerintah Percepat Proyek PLTS Desa, Target Awal 13 Gigawatt

“Sumatera Barat sudah membuktikan bahwa dengan inovasi, keterbatasan lahan bukan penghalang untuk mandiri dalam produksi beras,” katanya.

Dalam pertemuan tersebut turut hadir perwakilan penyuluh pertanian dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti, bersama jajarannya juga mengikuti kegiatan tersebut.

Alex menambahkan, penerapan metode Sawah Pokok Murah secara luas di sejumlah daerah seperti Kabupaten Agam, Pesisir Selatan, dan Dharmasraya menunjukkan potensi besar untuk menurunkan biaya produksi dibandingkan metode yang selama ini digunakan petani.

Namun, persoalan lain masih menjadi pekerjaan rumah. Salah satunya terkait kualitas beras, terutama tingkat patahan atau broken rice yang masih relatif tinggi.

Saat ini, beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) disebut memiliki kadar patahan sekitar 25 hingga 40 persen. Angka itu jauh lebih tinggi dibanding beras dari negara produsen di Asia Tenggara yang rata-rata berada di kisaran 5 persen.

Baca Juga  Momen Terakhir Anwar Usman di Mahkamah Konstitusi: Mungkin Ini Sidang Terakhir Saya

Alex menilai persoalan ini membutuhkan campur tangan pemerintah melalui riset yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta perguruan tinggi.

Jika kualitas beras tak segera ditingkatkan, menurutnya, peluang menembus pasar global akan semakin sulit.

Ia juga mengingatkan bahwa upaya meningkatkan produksi yang dicanangkan pemerintah, baik melalui perluasan lahan maupun intensifikasi pertanian, harus diimbangi dengan strategi penyerapan hasil panen.

Program swasembada pangan yang menjadi bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, kata Alex, bisa menghadapi tantangan jika kelebihan produksi tidak memiliki pasar yang jelas.

“Produksi terus meningkat, tetapi daya serap di dalam negeri tidak bertambah signifikan. Jika stok beras semakin melimpah, pertanyaannya: akan disalurkan ke mana? Ini yang perlu segera dijawab,” tegasnya. (A18)

Sumber: Parlementaria

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini