Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 13 Mei 2026 |18:41 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14535 14399 (MNA) 14400 (PBI) 14750 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI Persaingan harga masih cukup kompetitif antar bidder Tender LOCO PARINDU berakhir WD Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Ekonomi & Bisnis

Rupiah Melemah ke Rp17.600 per Dollar AS, Harga Kebutuhan Diprediksi Naik

rupiah melemah ke rp17.600 per dollar as, harga kebutuhan diprediksi naik
Ilustrasi nilai tukar Rupiah. (selfd)

Jakarta, Sinata.id – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS kembali melemah dan menyentuh level Rp17.600 pada perdagangan Jumat (15/5/2026).

Pelemahan tersebut memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok, bahan baku impor, hingga biaya hidup masyarakat.

Advertisement

Kondisi ini dinilai berdampak luas karena industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor yang mencapai sekitar 70 persen. Ketergantungan tersebut mencakup sektor kimia, tekstil, elektronik, minyak dan gas, obat-obatan, hingga kendaraan.

Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Teuku Riefky, mengatakan pelemahan rupiah membuat biaya produksi industri dalam negeri meningkat karena transaksi impor menggunakan dollar AS.

“Implikasinya terhadap masyarakat tentu biaya hidup akan semakin mahal,” ujar Riefky.

Menurutnya, produsen memiliki dua pilihan, yakni menaikkan harga barang atau mengurangi keuntungan. Di lapangan, sebagian pelaku usaha memilih mengurangi ukuran produk agar harga tetap terjangkau.

Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu dan Tempe Tertekan

Baca Juga  Rupiah Tertekan di Awal Maret: Ketidakpastian Global Masih Jadi Momok

Dampak pelemahan rupiah mulai dirasakan pelaku usaha kecil, terutama produsen tahu dan tempe yang bergantung pada kedelai impor.

Seorang perajin tahu di Semarang mengaku harga kedelai yang sebelumnya sekitar Rp7.000 per kilogram kini naik menjadi Rp10.500 per kilogram. Kondisi itu membuat pelaku usaha kesulitan menjaga harga jual di tengah menurunnya daya beli masyarakat.

Untuk menyiasati kenaikan biaya produksi, sebagian produsen memilih memperkecil ukuran tahu dan tempe dibanding menaikkan harga.

Fenomena serupa juga terjadi di Makassar. Perajin tempe setempat menyebut harga kedelai terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir akibat ketidakstabilan global dan pelemahan rupiah.

Impor Pangan Dinilai Bermasalah

Kajian NEXT Indonesia Center menemukan adanya persoalan tata niaga kedelai impor yang dinilai hanya dikuasai segelintir pelaku usaha besar.

Kepala peneliti NEXT Indonesia Center, Ade Holis, mengatakan harga kedelai impor di pasar domestik jauh lebih tinggi dibanding harga internasional.

Baca Juga  Bitcoin Ambruk dari Puncak, Terjun Bebas 50% dari Rekor Tertinggi

Menurutnya, pelemahan rupiah memang memengaruhi harga impor, namun struktur perdagangan juga menjadi faktor utama tingginya harga kedelai di dalam negeri.

Faktor Penyebab Rupiah Melemah

Teuku Riefky menjelaskan pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan domestik.

Dari sisi global, konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat pasar keuangan tidak stabil. Investor asing disebut mulai menarik modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sementara dari sisi domestik, kondisi fiskal Indonesia ikut menjadi perhatian lembaga pemeringkat internasional karena tingginya belanja negara dan tekanan terhadap pendapatan pemerintah.

Situasi tersebut memicu arus modal keluar atau capital outflow yang semakin menekan nilai tukar rupiah.

Langkah Bank Indonesia dan Pemerintah

Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia menyiapkan sejumlah langkah intervensi pasar, termasuk pembelian Surat Berharga Negara (SBN), penguatan likuiditas perbankan, serta pengawasan pembelian dollar AS.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan pengawasan diperketat terhadap bank dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dollar tinggi.

Baca Juga  Rupiah Melemah ke Rp17.105 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak panik menghadapi pelemahan rupiah.

Menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih lebih baik dibanding krisis moneter 1998 karena fundamental ekonomi dinilai tetap kuat.

“Tidak perlu panik karena fondasi ekonomi kita masih bagus dan pemerintah terus menyiapkan langkah stabilisasi,” ujar Purbaya.

Pemerintah juga disebut tengah menyiapkan penguatan pasar obligasi atau bond market guna menjaga kepercayaan investor dan mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Ancaman Inflasi dan PHK

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Sarman Simanjorang, mengatakan pelemahan rupiah mulai memengaruhi psikologis pelaku usaha.

Menurutnya, apabila kondisi ini berlangsung lama, pelaku usaha berpotensi menaikkan harga barang, mengurangi produksi, hingga melakukan efisiensi tenaga kerja.

Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada meningkatnya inflasi serta melemahnya daya beli masyarakat dalam beberapa bulan ke depan. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini