Jakarta, Sinata.id – Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (11/5/2026).
Saat pembukaan perdagangan pagi, rupiah tercatat berada di level Rp17.386 per dolar AS atau melemah 4 poin dibanding penutupan sebelumnya di posisi Rp17.382 per dolar AS.
Sebelumnya, pada akhir pekan lalu, mata uang Garuda juga ditutup melemah 49 poin atau sekitar 0,28 persen dari posisi Rp17.333 per dolar AS menjadi Rp17.382 per dolar AS.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut melemah ke level Rp17.375 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.362 per dolar AS.
Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Melemah
Tekanan tidak hanya terjadi pada rupiah. Mayoritas mata uang Asia juga bergerak melemah terhadap dolar AS seiring penguatan indeks dolar global atau DXY.
Berdasarkan data perdagangan pagi, sebanyak delapan dari sepuluh mata uang Asia berada di zona merah.
Rupiah tercatat melemah sekitar 0,23 persen dan sempat berada di level Rp17.400 per dolar AS.
Pelemahan terdalam dialami baht Thailand yang turun 0,81 persen ke level THB 32,36 per dolar AS. Sementara won Korea Selatan melemah 0,72 persen dan peso Filipina turun 0,69 persen.
Yen Jepang, dolar Taiwan, ringgit Malaysia, dan dolar Singapura juga ikut mengalami depresiasi terhadap mata uang AS.
Di sisi lain, dong Vietnam dan yuan China masih mampu mencatatkan penguatan tipis terhadap dolar AS.
Konflik AS-Iran dan Data Ekonomi AS Jadi Sentimen
Penguatan dolar AS dipicu meningkatnya permintaan aset aman di tengah memanasnya konflik antara AS dan Iran.
Presiden Donald Trump dikabarkan menolak respons Iran terhadap proposal perdamaian terkait isu nuklir. Situasi tersebut membuat pelaku pasar global cenderung memilih dolar AS sebagai aset aman.
Selain faktor geopolitik, dolar AS juga mendapat dukungan dari data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan pasar.
Data nonfarm payrolls AS menunjukkan penambahan 115.000 lapangan kerja pada April 2026, jauh di atas proyeksi pasar yang memperkirakan kenaikan sekitar 62.000 pekerjaan.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve atau The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama pada tahun ini.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi AS periode April yang dinilai akan menjadi indikator penting arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Dengan sentimen global tersebut, mata uang Asia, termasuk rupiah, masih berpotensi bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini