Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 13 Mei 2026 |18:41 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14535 14399 (MNA) 14400 (PBI) 14750 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI Persaingan harga masih cukup kompetitif antar bidder Tender LOCO PARINDU berakhir WD Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Ekonomi & Bisnis

Rupiah Kembali Tersungkur ke Rp17.386 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

rupiah kembali tersungkur ke rp17.386 per dolar as, ini penyebabnya
Karyawan menghitung uang dolar AS. (bisnis)

Jakarta, Sinata.id – Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (11/5/2026).

Saat pembukaan perdagangan pagi, rupiah tercatat berada di level Rp17.386 per dolar AS atau melemah 4 poin dibanding penutupan sebelumnya di posisi Rp17.382 per dolar AS.

Advertisement

Sebelumnya, pada akhir pekan lalu, mata uang Garuda juga ditutup melemah 49 poin atau sekitar 0,28 persen dari posisi Rp17.333 per dolar AS menjadi Rp17.382 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut melemah ke level Rp17.375 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.362 per dolar AS.

Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Melemah

Baca Juga  Harga Emas Dunia Anjlok 11% Imbas Konflik Iran dan Kenaikan Suku Bunga Global

Tekanan tidak hanya terjadi pada rupiah. Mayoritas mata uang Asia juga bergerak melemah terhadap dolar AS seiring penguatan indeks dolar global atau DXY.

Berdasarkan data perdagangan pagi, sebanyak delapan dari sepuluh mata uang Asia berada di zona merah.

Rupiah tercatat melemah sekitar 0,23 persen dan sempat berada di level Rp17.400 per dolar AS.

Pelemahan terdalam dialami baht Thailand yang turun 0,81 persen ke level THB 32,36 per dolar AS. Sementara won Korea Selatan melemah 0,72 persen dan peso Filipina turun 0,69 persen.

Yen Jepang, dolar Taiwan, ringgit Malaysia, dan dolar Singapura juga ikut mengalami depresiasi terhadap mata uang AS.

Di sisi lain, dong Vietnam dan yuan China masih mampu mencatatkan penguatan tipis terhadap dolar AS.

Baca Juga  Harga Plastik Melonjak hingga 80%, UMKM Terancam Tertekan

Konflik AS-Iran dan Data Ekonomi AS Jadi Sentimen

Penguatan dolar AS dipicu meningkatnya permintaan aset aman di tengah memanasnya konflik antara AS dan Iran.

Presiden Donald Trump dikabarkan menolak respons Iran terhadap proposal perdamaian terkait isu nuklir. Situasi tersebut membuat pelaku pasar global cenderung memilih dolar AS sebagai aset aman.

Selain faktor geopolitik, dolar AS juga mendapat dukungan dari data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan pasar.

Data nonfarm payrolls AS menunjukkan penambahan 115.000 lapangan kerja pada April 2026, jauh di atas proyeksi pasar yang memperkirakan kenaikan sekitar 62.000 pekerjaan.

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve atau The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama pada tahun ini.

Baca Juga  Dana Rp420 Triliun Terungkap, Menkeu Akui Rp120 Triliun SAL Masih Tersimpan di BI

Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi AS periode April yang dinilai akan menjadi indikator penting arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Dengan sentimen global tersebut, mata uang Asia, termasuk rupiah, masih berpotensi bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini