Oleh Dian Fitria Tanjung SPd MPd
Dosen STAI Samora Pematangsiantar
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, pada kesempatan kali ini kita akan membahas tema yang sangat penting dan relevan di tengah dinamika kehidupan ekonomi dan sosial saat ini. Yakni, tentang memaksakan rezeki orang lain menjadi rezekinya.
Fenomena ini bukan hanya berkaitan dengan hubungan sosial. Tetapi, juga berkaitan dengan nilai keadilan, kejujuran, dan sikap tawakkal dalam mencari keberkahan.
Dalam Al-Qur’an Surat Adz-Dzariyat ayat 56 mengingatkan kita, bahwa rezeki adalah ketetapan Allah untuk setiap makhluk. Mencoba merampas atau memaksakan rezeki orang lain bisa menjadi tindakan yang melawan sunnatullah dan menimbulkan pertentangan yang sia-sia.
Rasulullah SAW juga bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk merendahkan saudaranya, menyengsarakan, mengurangi haknya, berdusta kepadanya, atau menyembunyikan hal yang tidak diketahui”.
Di era kontemporer sekarang, fenomena persaingan usaha, sistem kerja, bahkan interaksi sosial kerap menimbulkan sikap ingin menguasai peluang rezeki dengan cara yang tidak etis. Seperti
eksploitasi pekerja, korupsi, monopoli bisnis, hingga manipulasi harga dan informasi.
Hal seperti itu, tidak hanya merusak tatanan sosial tapi juga tidak mendapatkan berkah dari Allah. Sebaliknya, Allah menegaskan dalam Surat Hud ayat 6, bahwa apa saja musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mengampuni banyak hal.
Dalam konteks ini, setiap usaha mencari rezeki, hendaknya didasari oleh prinsip kejujuran, keadilan, dan tawakkal kepada Allah. Kita harus yakin bahwa rezeki yang Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar.
Maka, jangan pernah mencoba mengambil hak milik orang lain dengan cara-cara yang dzalim ataupun merugikan. Sebagai umat Islam, kita diperintahkan untuk saling menolong dalam kebenaran dan kesabaran, bukan dalam kezaliman dan permusuhan.
Rasulullah SAW bersabda, bahwa perumpamaan orang-orang beriman dalam saling cinta, kasihan dan tolong
menolong adalah seperti satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuh turut merasakan demam dan tidak bisa tidur.
Oleh karena itu, memperjuangkan
rezeki dengan cara yang benar, tanpa memaksakan atau menghalangi rezeki orang lain, merupakan bagian dari menjaga ukhuwah islamiyah dan mendapatkan berkah hidup yang hakiki.
Untuk itu, marilah kita sama-sama kembali kepada prinsip kejujuran, keadilan, dan tawakkal sebagai jalan meraih rezeki yang halal dan barakah. Semoga Allah selalu melimpahkan rizki yang luas, berkah, dan kemenangan dalam setiap usaha kita. Amin. (*)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini