Paris, Sinata.id — Kejaksaan Paris, Prancis, resmi mendakwa empat orang, termasuk dua warga negara China, atas dugaan spionase terhadap militer Prancis.
Keempatnya diduga berperan dalam upaya pencurian data sensitif yang ditujukan kepada Beijing.
Seperti dilaporkan AFP, Jumat (6/2/2026), penangkapan dilakukan pada akhir pekan lalu di wilayah Gironde, barat daya Prancis. Dua tersangka warga China diduga menyewa apartemen melalui layanan Airbnb sebagai kedok untuk menjalankan aktivitas pengumpulan informasi rahasia, termasuk intelijen militer.
Kejaksaan menyatakan dua tersangka saat ini ditahan, sementara dua lainnya ditempatkan di bawah pengawasan yudisial. Identitas para tersangka tidak dipublikasikan kepada publik.
Baca juga:Iran Pamer Kekuatan Lewat Latihan Militer Bersama Rusia dan China
Para tersangka didakwa dengan tuduhan penyampaian informasi kepada kekuatan asing yang dinilai berpotensi membahayakan kepentingan nasional Prancis. Jika terbukti bersalah, mereka terancam hukuman penjara hingga 15 tahun.
Penyelidikan kasus ini bermula pada 30 Januari 2026, ketika warga setempat menemukan sebuah antena parabola berdiameter sekitar dua meter, bertepatan dengan gangguan layanan internet di wilayah tersebut. Dalam penggeledahan lanjutan, penyidik menemukan sistem komputer yang terhubung dengan antena satelit.
Menurut kejaksaan, perangkat tersebut memungkinkan pengambilan data satelit dan berpotensi digunakan untuk mencegat komunikasi militer dari sejumlah unit strategis.
Dua tersangka warga China diketahui masuk ke Prancis dengan mengajukan visa sebagai insinyur di perusahaan riset dan pengembangan komunikasi nirkabel. Mereka diduga berniat mencuri data dari sistem internet satelit, termasuk jaringan Starlink, serta entitas strategis lainnya untuk dikirim ke China.
Sementara itu, dua tersangka lainnya didakwa atas dugaan impor peralatan ilegal yang berkaitan dengan aktivitas spionase tersebut.
Baca juga:Belajar Pengobatan dari Internet, Pria Muda di China Masukkan Lintah ke Penis Berujung Operasi
Kasus ini mengingatkan publik pada peristiwa serupa pada Desember 2025, ketika seorang profesor matematika terapan Prancis didakwa karena memberikan akses kepada delegasi China ke sebuah situs sensitif. Institut teknik tempatnya bekerja telah ditetapkan sebagai area terbatas sejak 2019.
Kejaksaan Prancis menegaskan, penindakan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat perlindungan keamanan nasional dan mencegah ancaman spionase asing. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini