“Kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat. Dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya,” ungkapnya.
Dari pertemuan tersebut, pemerintah mengambil sejumlah pembelajaran penting terkait langkah antisipatif dalam menghadapi berbagai potensi tekanan ekonomi global ke depan.
Presiden Prabowo juga meminta jajaran terkait, termasuk Kementerian Keuangan, untuk terus memonitor regulasi yang dapat memperkuat stabilitas sektor keuangan dan menjaga prinsip kehati-hatian perbankan.
“Bapak Presiden meminta kami, Menteri Keuangan, untuk memonitor bagaimana regulasi-regulasi untuk memperkuat situasi finansial dan juga menjaga prudensial dari perbankan kita,” kata Airlangga.
Pemerintah juga menilai perlu adanya kajian terhadap penguatan permodalan perbankan nasional, mengingat jumlah bank di Indonesia yang cukup banyak. Langkah tersebut dinilai penting sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan sistem keuangan nasional di tengah dinamika ekonomi global.
Pertemuan ini menegaskan pendekatan kepemimpinan Presiden Prabowo yang mengedepankan kombinasi pengalaman, kewaspadaan, dan penguatan fundamental ekonomi sebagai kunci menjaga stabilitas nasional sekaligus memastikan Indonesia tetap tangguh dan adaptif menghadapi berbagai tantangan global. (A08)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini