MENU
Banner SINATA.ID
Perang Timur Tengah Bikin Tiket Pesawat Terancam Makin Mahal
WA FB
Ekonomi & Bisnis

Perang Timur Tengah Bikin Tiket Pesawat Terancam Makin Mahal

J Editor : Jansen Siahaan | 13 Jun 2026 | 23:43 WIB
Perang Timur Tengah Bikin Tiket Pesawat Terancam Makin Mahal
Ilustrasi sejumlah maskapai penerbangan. (gettyimages)

Jakarta, Sinata.id – Konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah mulai memberikan dampak luas terhadap industri penerbangan dunia.

Sejumlah maskapai internasional membatalkan maupun mengalihkan rute penerbangan, sementara harga tiket pesawat diperkirakan akan tetap tinggi sepanjang 2026 akibat melonjaknya biaya operasional.

Gangguan lalu lintas udara terjadi setelah sejumlah wilayah udara di kawasan konflik dianggap tidak aman untuk dilintasi. Akibatnya, maskapai dari Eropa, Asia, hingga Amerika Utara melakukan penyesuaian jadwal penerbangan menuju berbagai kota di Timur Tengah.

Data yang dihimpun dari berbagai sumber industri penerbangan menunjukkan maskapai besar seperti Air Canada, British Airways, Brussels Airlines, Lufthansa Group, hingga Cathay Pacific menunda atau membatalkan penerbangan ke sejumlah destinasi utama, termasuk Tel Aviv, Dubai, Doha, Riyadh, Abu Dhabi, Beirut, dan Teheran.

Harga Tiket Diprediksi Tetap Tinggi

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperkirakan tekanan terhadap industri penerbangan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur) menjadi faktor utama yang mendorong meningkatnya biaya operasional maskapai. Harga avtur diperkirakan mencapai 152 dolar Amerika Serikat per barel sepanjang 2026, terutama jika gangguan pasokan minyak akibat situasi di Selat Hormuz terus berlanjut.

Senior Vice President Sustainability sekaligus Chief Economist IATA, Marie Owens Thomsen, menilai kondisi tersebut akan berdampak langsung pada tarif penerbangan yang dibayar penumpang.

“Tarif penerbangan kemungkinan akan tetap berada pada level tinggi karena biaya bahan bakar masih mengalami tekanan dan pemulihan pasar energi membutuhkan waktu,” ujarnya dalam pertemuan tahunan IATA di Rio de Janeiro, Brasil, seperti dilansir Sabtu (13/6/2026).

Menurut Thomsen, harga minyak mentah Brent diperkirakan belum akan kembali ke kisaran 60 dolar AS per barel seperti yang terjadi pada awal tahun.

Piala Dunia 2026 Berpotensi Tambah Tekanan

Tekanan terhadap pasokan avtur diperkirakan semakin besar selama musim panas 2026 yang bertepatan dengan penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 pada 11 Juni hingga 19 Juli.

Direktur Riset Global Fuels and Refining S&P Global, Eleanor Budds, memperkirakan sejumlah kilang minyak akan lebih memprioritaskan produksi bensin dibandingkan avtur untuk memenuhi tingginya kebutuhan transportasi darat selama musim liburan.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.