Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 13 Mei 2026 |18:41 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14535 14399 (MNA) 14400 (PBI) 14750 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI Persaingan harga masih cukup kompetitif antar bidder Tender LOCO PARINDU berakhir WD Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Regional

Pemkab Taput dan Kementerian Kehutanan Petakan Potensi Konservasi HARANGAN Tapanuli

pemkab taput dan kementerian kehutanan petakan potensi konservasi harangan tapanuli
Pemkab Tapanuli Utara bersama Kementerian Kehutanan saat menggelar workshop pemetaan potensi konservasi di Hotel Hineni, Tarutung. (diskominfotaput)

Tapanuli Utara, Sinata.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapanuli Utara (Taput) bersama Kementerian Kehutanan memetakan potensi areal konservasi pada lanskap Batang Toru–HARANGAN Tapanuli melalui sebuah workshop yang digelar di Hotel Hineni, Tarutung, Rabu (8/4/2026).

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati (Wabup) Taput Deni Parlindungan Lumbantoruan, bersama Dewi Sulastri Ningsih yang mewakili Direktorat Pemulihan Ekosistem dan Bina Areal Preservasi.

Advertisement

Dalam sambutannya, Wabup Deni menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kehutanan (Kemenhut) atas perhatian terhadap kekayaan alam di Taput. Ia menegaskan bahwa sekitar 66 persen kawasan lanskap Batang Toru berada di wilayah Taput, sehingga pelestariannya menjadi tanggung jawab utama pemerintah daerah.

“Kami mendukung penuh inisiatif Kemenhut melalui Direktorat Pemulihan Ekosistem. Pemetaan ini penting untuk mengidentifikasi potensi alam yang selama ini belum tergali secara optimal,” ujar Deni.

Baca Juga  Hardiknas 2026: Pemkab Tapanuli Utara Apresiasi 12 Siswa Lulus Sekolah Unggulan

Ia juga mengusulkan penguatan penamaan kawasan menjadi “HARANGAN Tapanuli”. Menurutnya, nama tersebut dapat menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) masyarakat di wilayah Taput, Tapanuli Selatan (Tapsel), dan Tapanuli Tengah (Tapteng).

“Penamaan HARANGAN Tapanuli akan memperkuat kedekatan emosional masyarakat terhadap kawasan hutan, sehingga mendorong partisipasi dalam upaya pelestarian,” tambahnya.

Selain itu, Deni mendorong kampanye konservasi dilakukan secara kreatif, terutama melalui pendekatan edukasi kepada generasi muda.

“Kami ingin edukasi ini menjangkau pelajar. Simbol-simbol daerah, termasuk keberadaan Orangutan Tapanuli, dapat menjadi media untuk menanamkan kesadaran konservasi sejak dini,” jelasnya.

Ia berharap workshop yang berlangsung pada 7–8 April 2026 ini menghasilkan data akurat yang dapat ditindaklanjuti melalui aksi nyata oleh perangkat daerah, camat, kepala desa, serta kelompok masyarakat dan organisasi non-pemerintah (NGO).

Baca Juga  Polres Tanjungbalai Gelar Patroli Skala Besar, Pastikan Malam Hari Tetap Kondusif

Sementara itu, Dewi Sulastri Ningsih menegaskan bahwa ekosistem Batang Toru atau HARANGAN Tapanuli merupakan habitat penting bagi satwa prioritas, khususnya Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis).

“Orangutan Tapanuli merupakan salah satu spesies kera besar paling terancam punah di dunia. Dengan lebih dari 50 persen habitatnya berada di Taput, ini menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga kelestariannya,” ujarnya.

Kegiatan ini merupakan inisiatif Direktorat Pemulihan Ekosistem dan Bina Areal Preservasi, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Kehutanan, sebagai bagian dari upaya kolaboratif dalam menjaga kelestarian lingkungan di kawasan Tapanuli.

Workshop tersebut turut dihadiri perwakilan Balai KSDA Sumut, Dinas Lingkungan Hidup Sumut, pimpinan perangkat daerah, camat, kepala desa, serta organisasi lingkungan hidup. (SN15)

Baca Juga  Warga Batubara Diduga Jadi Korban Perdagangan Orang, Disiksa di Kamboja

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini