Oleh: Pdt Mis Ev Daniel Pardede, MH
Jakarta — Dalam tradisi iman Kristen, panggilan Tuhan tidak hanya dipahami sebagai urusan pribadi, melainkan juga sebagai mandat spiritual yang berdampak luas bagi kehidupan sosial dan kemanusiaan. Hal ini tercermin dalam kisah panggilan Nabi Yeremia sebagaimana tertulis dalam Kitab Yeremia 1:5–12, yang hingga kini masih relevan bagi umat Kristen di tengah tantangan zaman modern.
Alkitab mencatat bahwa Tuhan telah mengenal Yeremia bahkan sebelum ia dikandung dan menetapkannya sebagai nabi bagi bangsa-bangsa. Penetapan ini bukan sekadar gelar rohani, melainkan tanggung jawab besar untuk menyampaikan firman Tuhan, termasuk tugas menegur, membangun, dan menuntun umat menuju kebenaran.
Menariknya, respons awal Yeremia mencerminkan keraguan manusiawi. Ia merasa tidak layak karena usia yang muda dan keterbatasan dalam berbicara. Respons serupa juga pernah disampaikan oleh Musa ketika dipanggil Tuhan, sebagaimana tertulis dalam Kitab Ulangan. Namun, Alkitab menegaskan bahwa keterbatasan manusia tidak menjadi penghalang bagi rencana ilahi.
Firman Tuhan dalam Yeremia 1:12 menegaskan komitmen ilahi: “Aku siap sedia melaksanakan firman-Ku.” Pernyataan ini menekankan bahwa Tuhan selalu setia menjalankan kehendak-Nya, sementara manusia dipanggil untuk merespons dengan ketaatan dan kesiapan iman.
Dalam konteks kekinian, panggilan tersebut dimaknai lebih luas sebagai keterlibatan aktif umat Kristen dalam pelayanan kemanusiaan dan penginjilan. Pelayanan ini mencakup pembelaan terhadap kaum tertindas, pendampingan bagi mereka yang terbelenggu persoalan hidup, perhatian kepada orang sakit dan berkekurangan, serta pemberitaan nilai kasih dan pertobatan kepada masyarakat luas.
Penginjilan tidak semata-mata berbentuk aktivitas keagamaan, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata yang membawa damai, keadilan, dan pengharapan. Di era digital, pelayanan ini bahkan menjangkau ruang-ruang baru melalui media sosial dan platform daring, menjadikannya sebagai bagian dari misi nasional dalam membangun karakter dan moral bangsa.
Pada akhirnya, refleksi atas panggilan Yeremia mengajak setiap orang percaya untuk merenungkan satu pertanyaan mendasar: ketika Tuhan menyatakan kesiapan-Nya, apakah manusia juga siap merespons panggilan tersebut dengan iman dan tanggung jawab?
Kesiapan iman bukan hanya diukur dari ritual dan pengakuan, melainkan dari keberanian mengambil bagian dalam karya kasih Tuhan bagi sesama dan bangsa. Di situlah panggilan spiritual menemukan maknanya dalam kehidupan nyata. (A27)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini