Info Market CPO
🗓 Update: Jumat, 8 Mei 2026 |15:34 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • LOCO NGABANG • LOCO KEMBAYAN • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (TON) 15131 (AGM) 15275 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15100 (IMT/KJA) 15131 (AGM) 15275 KJA ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO NGABANG
14782 14675 (MNA) 14500 (PBI) 14925 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO KEMBAYAN
14772 14525 (MNA) 14400 (PBI) 14825 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14600 (MNA) 14500 (PBI) 14925 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP masih mendominasi pada beberapa titik LOCO
  • Persaingan harga di DMI berlangsung ketat
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Kolom

Mengatasi Star Syndrome dengan Profesionalitas Kinerja dan Solusi Psikologi Islam

mengatasi “star syndrome” dengan profesionalitas kinerja dan solusi psikologi islam
Dian Fitriah

Oleh: Dian Fitriah
Dosen STAI Samora

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, washshalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin, sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Advertisement

Di era digital dan kompetisi kerja yang semakin ketat ini, banyak dari kita yang meraih prestasi gemilang. Namun, tahukah Anda bahwa kesuksesan itu bisa menjadi jebakan?

Ada fenomena psikologis yang disebut Star Syndrome atau sindrom bintang. Ini adalah kondisi di mana seseorang merasa diri superior setelah meraih pencapaian, sehingga sombong, enggan belajar lagi, dan kinerjanya justru menurun.

Bayangkan seorang karyawan berprestasi yang tiba-tiba merasa “saya sudah paling hebat”, sehingga malas berinovasi, cuek terhadap masukan rekan, dan akhirnya gagal total.

Star Syndrome bukan sekadar kesombongan biasa, tapi gangguan psikologis yang merusak profesionalitas.

Menurut psikolog seperti Albert Bandura, ini muncul dari overconfidence effect, di mana ego membutakan realitas. Di tempat kerja, ini berdampak fatal: produktivitas turun, tim tercerai-berai, dan karir mandek.

Islam mengingatkan kita agar tidak jatuh ke dalamnya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 37:” Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan melobangi bumi dan engkau tidak akan menjulangi gunung tingginya.” (QS. Al-Isra: 37).Ayat ini tegas melarang kesombongan yang lahir dari prestasi palsu.

Baca Juga  Wujudkan Pematangsiantar Sehat, DPC PIKI Desak Pemko Perkuat Tata Kelola Bencana dan Infrastruktur Kota

Dampak Star Syndrome terhadap Profesionalitas yang menjunjung tinggi komitmen untuk bekerja secara konsisten, berkualitas, dan berorientasi pada tim. Namun, Star Syndrome meracuni elemen-elemen ini.

Pertama, hilangnya motivasi belajar. Orang dengan sindrom ini berpikir “saya sudah tahu segalanya”, sehingga stagnan.

Kedua, konflik interpersonal. Mereka merendahkan orang lain, menciptakan toxic workplace.

Ketiga, penurunan performa jangka panjang. Data dari Harvard Business Review menunjukkan, 70% pemimpin yang sombong gagal dalam 18 bulan pertama.

Di Indonesia, survei Kementerian Ketenagakerjaan 2024 mencatat, 45% karyawan berprestasi mengalami burnout akibat overconfidence ini.

Bayangkan dampaknya di sektor pendidikan atau bisnis: guru yang sombong tak lagi inovatif, pengusaha yang egois bangkrut. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seseorang dimasukkan ke dalam neraka karena selain kesombongannya terhadap agama dan bangsanya.” (HR. Muslim). Ini peringatan bahwa kesombongan merusak kinerja dunia-akhirat.

Baca Juga  Sinata.id Didirikan Bertujuan Perangi Hoax

Psikologi Islam menawarkan solusi holistik, menggabungkan ilmu jiwa (nafs) dengan tauhid. Pertama, tawadhu’ (kerendahhati) sebagai antivirus utama.

Nabi SAW adalah teladan: meski pemimpin umat, beliau tidur di atas tikar jerami dan berkata, “Aku hanyalah hamba Allah, aku hanya menyampaikan apa yang diperintahkan-Nya.” (QS. Al-A’raf: 143, adaptasi).

Praktikkan dengan merefleksikan setiap prestasi sebagai nikmat Allah, bukan kehebatan diri.

Kedua, muhasabah (introspeksi diri) setiap hari. Luangkan 10 menit sebelum tidur untuk bertanya: “Apa kelebihanku hari ini? Apa kekuranganku? Bagaimana besok lebih baik?” Ini sesuai hadits: “Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi).

Psikologi modern menyebutnya self-reflection therapy, yang terbukti menurunkan ego 40% (studi Journal of Personality, 2023).

Ketiga, shalat dan dzikir untuk reset mental. Shalat lima waktu adalah mindfulness Islami, membersihkan hati dari riya’ dan ujub (pamer prestasi). Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya dalam shalat itu terdapat peringatan.” (QS. Thaha: 14). Tambahkan dzikir “Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar” 33 kali setelah shalat untuk menanamkan rasa syukur.

Baca Juga  ALIF

Keempat, bangun profesionalitas melalui ikhlas dan gotong royong. Bekerjalah seperti ibadah, tanpa pamrih jabatan. Rasulullah SAW ajarkan: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Di tempat kerja, terima kritik sebagai ladang berkembang, kolaborasi dengan tim sebagai silaturahmi. Contoh: Umar bin Khattab ra, khalifah agung, tetap bekerja sebagai penggembala unta meski berkuasa, menjaga profesionalitasnya.

Kelima, solusi komunal: amar ma’ruf nahi mungkar. Di masjid atau kantor, ingatkan saudara kita secara lembut jika terlihat gejala Star Syndrome. Bentuk kelompok kajian psikologi Islam untuk sharing pengalaman, seperti komunitas “Tadabbur Jiwa” yang sukses di Indonesia.

Star Syndrome adalah ujian prestasi yang harus diatasi dengan profesionalitas kinerja dan psikologi Islam. Ingat, bintang sejati adalah yang bersinar karena cahaya Allah, bukan ego sendiri.

Mari terapkan solusi ini: tawadhu’, muhasabah, shalat, ikhlas, dan gotong royong. InsyaAllah, kinerja kita naik, hati tenang, dan ridha Allah tercapai.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba yang rendah hati, profesional, dan diberkahi. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Barakallahu fiikum, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (A18)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini