Oleh: Pdt. Mis Ev Daniel Pardede, MH
Dalam kehidupan iman Kristen, panca indera tidak hanya dipahami sebagai fungsi biologis, melainkan juga sebagai sarana rohani untuk merespons kehendak Allah. Salah satu panca indera yang memiliki makna penting dalam pertumbuhan iman adalah telinga.
Alkitab menegaskan bahwa kemampuan mendengar terutama mendengar kebenaran dan teguran menjadi penentu kualitas hidup rohani seseorang. Kitab Amsal menyatakan, “Orang yang mengarahkan telinganya kepada teguran yang membawa kepada kehidupan, akan tinggal di tengah-tengah orang bijak” (Amsal 15:16). Ayat ini menegaskan bahwa mendengar bukan sekadar aktivitas pasif, melainkan sikap hati yang terbuka terhadap koreksi dan nasihat yang benar. Telinga yang peka terhadap kebenaran akan menuntun seseorang pada hikmat dan kehidupan yang berkenan kepada Tuhan.
Secara faktual, tidak semua manusia memiliki kemampuan mendengar secara sempurna. Ada yang terlahir dengan keterbatasan pendengaran, ada pula yang kehilangan kemampuan tersebut akibat penyakit. Alkitab mengingatkan bahwa Tuhan adalah Pencipta telinga, mulut, dan lidah manusia. Dialah yang berkuasa memberi kemampuan mendengar dan berbicara, sebagaimana ditegaskan dalam Mazmur 94:9 dan Keluaran 4:11–16. Kuasa Allah tidak terbatas pada kondisi fisik, melainkan juga menjangkau pemulihan rohani manusia.
Iman Kristen mengajarkan penyembahan kepada satu Tuhan yang hidup, yang mendengar doa umat-Nya dan berbicara melalui firman-Nya. Hal ini berbeda dengan penyembahan kepada berhala yang tidak dapat mendengar, melihat, maupun berbicara, sebagaimana digambarkan dalam Mazmur 115:4–8. Karena itu, umat percaya diingatkan untuk tidak mendua hati, melainkan setia kepada Allah yang esa dalam Yesus Kristus. Sikap hati yang terpecah, menurut Yakobus 1:8, hanya akan membawa kegelisahan dan ketidaktenangan hidup.
Lebih jauh, firman Tuhan juga menyoroti tanggung jawab sosial orang percaya. Amsal 21:13 menegaskan bahwa siapa yang menutup telinganya terhadap jeritan orang lemah dan menderita, pada akhirnya tidak akan menerima jawaban ketika ia sendiri berseru meminta pertolongan.
Dengan demikian, telinga yang berkenan kepada Tuhan adalah telinga yang mau mendengar suara kebenaran sekaligus peka terhadap penderitaan sesama. Telinga yang mau mendengar firman, teguran, dan jeritan sesama merupakan cerminan iman yang hidup dan bertanggung jawab.
Di tengah kesibukan dan hiruk pikuk kehidupan, orang percaya dipanggil untuk tetap peka—mendengar dengan hati yang tunduk kepada Tuhan dan siap bertindak dalam kasih. Dari situlah lahir kehidupan yang bijaksana, damai, dan memuliakan Allah. Shalom. (A27)
Â









Jadilah yang pertama berkomentar di sini