Oleh : Pdt Mis Ev Daniel Pardede,MH
Umat Kristen kembali diingatkan pada salah satu bagian tegas dalam Kitab Suci, yakni ayat dalam Kitab Ulangan 27:20 yang berbunyi: “Terkutuklah orang yang tidur dengan isteri ayahnya, sebab ia telah membukakan punca kain ayahnya.”
Ayat ini merupakan bagian dari dua belas pernyataan kutuk yang disampaikan kepada bangsa Israel sebagai bentuk peringatan moral dan rohani. Kutuk keenam tersebut menegaskan larangan keras terhadap perbuatan asusila dalam lingkup keluarga, yang dalam konteks hukum Taurat dipandang sebagai pelanggaran berat terhadap kekudusan dan tatanan ilahi.
Latar Belakang Teologis dalam Perjanjian Lama
Bagian dalam Kitab Ulangan tersebut memiliki kesinambungan nilai dengan berbagai peristiwa yang dicatat dalam Perjanjian Lama, termasuk kisah keluarga Lot dalam Kitab Kejadian 19:30-38.
Dalam kisah tersebut, Lot yang melarikan diri dari kehancuran Sodom dan Gomora hidup terpencil bersama dua putrinya. Dalam situasi terdesak dan ketakutan akan ketiadaan keturunan, kedua putrinya mengambil tindakan yang keliru dengan membuat ayah mereka mabuk dan melakukan hubungan inses. Dari peristiwa itu lahirlah Moab dan Ben-Ami, yang kemudian menjadi leluhur bangsa Moab dan Amon.
Secara teologis, kisah ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan tindakan tersebut, melainkan menjadi catatan sejarah yang memperlihatkan kompleksitas moral manusia serta konsekuensi dari kehidupan yang jauh dari tuntunan Tuhan.
Peringatan Moral dan Refleksi Spiritualitas
Ayat dalam Ulangan 27:20 menegaskan bahwa pelanggaran terhadap kekudusan keluarga bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga spiritual. Dalam tradisi iman Kristen, keluarga dipandang sebagai institusi yang dibentuk oleh Allah, sehingga relasi di dalamnya harus dijaga dalam kesucian dan hormat.
Para pengajar Alkitab sering menekankan bahwa daftar kutuk dalam Ulangan bukan sekadar ancaman, melainkan sarana pembelajaran agar umat hidup dalam hikmat, takut akan Tuhan, dan tidak menyimpang dari ketetapan-Nya.
Pesan moral yang dapat ditarik adalah pentingnya menjaga integritas, penguasaan diri, serta membangun kehidupan berdasarkan pengetahuan dan hikmat ilahi.
Di tengah berbagai tantangan moral dan perubahan nilai dalam masyarakat modern, refleksi atas teks-teks Alkitab ini menjadi relevan. Bagi umat Kristen, peringatan dalam Ulangan mengingatkan bahwa setiap keputusan hidup memiliki dampak rohani dan sosial.
Namun demikian, pendekatan terhadap teks-teks ini perlu dilakukan dengan pemahaman konteks sejarah dan teologis yang tepat, agar tidak menimbulkan perdebatan yang tidak membangun. Alkitab mencatat berbagai peristiwa manusiawi, termasuk kegagalan tokoh-tokohnya, sebagai cermin pembelajaran bagi generasi berikutnya.
Pada akhirnya, pesan utama dari Ulangan 27:20 dan kisah Lot bukanlah untuk menimbulkan ketakutan, melainkan untuk mengajak umat hidup dalam hikmat, menjaga kekudusan, serta tetap setia pada firman Tuhan.
Di tengah perjalanan hidup yang penuh tantangan, iman yang berakar pada kebenaran akan menolong setiap orang percaya untuk melangkah dengan bijaksana, tidak tersesat oleh keadaan, dan tetap memuliakan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.
Shalom dan Selamat Paskah. Semoga damai sejahtera Tuhan menyertai seluruh pembaca di mana pun berada. (A27)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini