Bek asal Brasil yang sudah membela PSG sejak 2013 tetap dipercaya menjadi pemimpin tim karena dianggap sebagai profesional sejati dan bek kelas dunia.
Bersama Willian Pacho, Marquinhos membangun tembok kokoh yang sukses meredam Harry Kane hampir sepanjang pertandingan.
Di lini depan, kombinasi Kvaratskhelia dan Dembele kembali menjadi mimpi buruk lawan.
Sementara wonderkid berusia 20 tahun, Desire Doue, tampil penuh percaya diri dan berkali-kali mengacak-acak pertahanan Bayern.
Namun kekuatan utama PSG bukan hanya soal individu. Trio lini tengah Vitinha, Fabian Ruiz, dan Joao Neves menjadi mesin permainan yang membuat tim ini begitu seimbang.
Fabian Ruiz memperlihatkan kualitasnya lewat umpan indah dalam proses gol Dembele, sebelum kembali bekerja keras membantu pertahanan seperti tuntutan Luis Enrique.
Kini PSG bukan lagi sekadar kumpulan bintang. Mereka telah berubah menjadi mesin sepak bola yang matang, disiplin, dan mematikan.
Dan Arsenal harus menemukan cara menghentikannya jika ingin merebut trofi Liga Champions musim ini. (A08)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini