Sinata.id – Gelap masih menyelimuti Kota Langsa. Hingga Rabu malam (17/12/2025), hampir seluruh penjuru kota di Aceh tersebut belum juga menikmati aliran listrik pascabanjir bandang yang disertai longsor dan terjangan angin kencang. Ribuan warga terpaksa bertahan dalam keterbatasan, menjalani malam-malam panjang tanpa penerangan yang memadai.
Pemadaman listrik berlangsung sejak bencana menerjang kawasan itu beberapa hari lalu.
Meski genangan air di sejumlah lokasi mulai surut, jaringan kelistrikan belum pulih.
Kondisi ini membuat aktivitas warga lumpuh, terutama setelah matahari terbenam.
Rumah-rumah tenggelam dalam gelap, jalanan sepi, dan rasa cemas terus menghantui.
“Begitu malam tiba, semuanya gelap. Anak-anak menangis karena takut, kami orang tua tidak bisa beristirahat dengan tenang,” ujar salah satu warga terdampak banjir.
Baca Juga: BSI Terapkan Restrukturisasi Pembiayaan untuk Warga Terdampak Bencana
Ketiadaan listrik berdampak langsung pada sendi kehidupan masyarakat.
Aktivitas rumah tangga tersendat, usaha kecil terpaksa tutup, dan akses informasi nyaris terputus.
Sebagian warga hanya mengandalkan lampu darurat dan genset dengan daya terbatas, sementara lainnya memilih mengurung diri di rumah demi menjaga keselamatan.
Situasi ini memperparah penderitaan warga yang sebelumnya telah kehilangan harta benda akibat terjangan banjir.
Meski air mulai meninggalkan permukiman, kerusakan infrastruktur, khususnya jaringan listrik, masih menjadi persoalan serius yang belum terselesaikan.
Warga pun mendesak pemerintah dan instansi terkait agar segera mempercepat pemulihan layanan kelistrikan.
Baca Juga: Menteri Agama Turun Langsung ke Aceh, Kucurkan Bantuan Kemenag Rp37,95 Miliar
Bagi mereka, listrik bukan sekadar fasilitas, melainkan kebutuhan dasar yang sangat menentukan keselamatan dan keberlangsungan hidup di masa darurat.
“Air bersih susah, sinyal juga hilang. Semuanya jadi serba terbatas,” kata warga lain menambahkan.
Tak hanya listrik, gangguan juga terjadi pada layanan air bersih dan jaringan komunikasi.
Kondisi ini membuat proses pemulihan sosial dan ekonomi berjalan lambat, sementara kebutuhan warga terus mendesak.
Pemerintah Kota Langsa sebelumnya telah menetapkan status tanggap darurat bencana akibat banjir bandang dan tanah longsor.
Namun, masyarakat berharap status tersebut diikuti langkah nyata di lapangan, terutama pemulihan layanan dasar yang langsung dirasakan warga.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada kejelasan kapan seluruh wilayah Kota Langsa kembali terang.
Warga masih menunggu dalam kegelapan, berharap pemulihan segera dilakukan agar kehidupan bisa kembali berjalan normal. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini