Oleh: Pdt Mis Ev Daniel Pardede, MH.
Kasih yang murah hati merupakan salah satu nilai utama dalam ajaran Kristiani yang menegaskan hubungan antara sikap manusia dan karya Tuhan dalam hidup umat-Nya. Prinsip ini ditegaskan langsung oleh Yesus Kristus dalam Khotbah di Bukit: “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan” (Matius 5:7). Ayat ini menjadi fondasi iman bahwa kemurahan hati bukan hanya tindakan sosial, melainkan respons iman yang mendatangkan berkat ilahi.
Dalam catatan Alkitab, kisah Musa dan bangsa Israel menjadi gambaran nyata bagaimana Tuhan bekerja melalui hati manusia. Musa dikenal dan disegani oleh Firaun serta seluruh pegawai istana Mesir. Ketika tiba waktunya bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan, Tuhan sendiri yang menggerakkan hati Firaun dan rakyat Mesir untuk bermurah hati. Bangsa Israel tidak pergi dengan tangan hampa, melainkan dibekali emas, perak, pakaian, ternak, serta kebutuhan hidup lainnya, sebagaimana dicatat dalam Keluaran 3:21.
Namun Alkitab juga menunjukkan sisi lain dari kedaulatan Tuhan. Dalam situasi berbeda, Tuhan mengeraskan hati Firaun sehingga ia menolak membebaskan bangsa Israel. Penolakan tersebut berujung pada berbagai tulah yang menimpa Mesir, termasuk kematian anak sulung dan ternak, sebagai pernyataan nyata kemahakuasaan Allah atas manusia dan sejarah (Keluaran 4:21). Dari peristiwa ini, terlihat jelas bahwa Tuhan berdaulat penuh untuk membuka maupun menutup hati manusia sesuai dengan kehendak-Nya.
Raja Daud dalam Mazmur 30:6 menegaskan realitas tersebut dengan berkata, “Sebab sesaat saja Tuhan murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati.” Pernyataan ini menjadi penghiburan bagi orang percaya bahwa di balik penderitaan, tangisan, dan pergumulan hidup, kemurahan Tuhan tetap bekerja dan membawa pemulihan pada waktunya.
Kemurahan hati Tuhan tidak dapat diukur dengan logika manusia. Ia setia pada janji-Nya, bahkan ketika manusia berada dalam kondisi duka, sakit, kegagalan, maupun kerugian. Tuhan tetap peduli dan sanggup mengubah keadaan yang tidak disukai menjadi sumber sukacita yang besar bagi umat-Nya.
Namun firman Tuhan juga mengingatkan agar manusia tidak menjadi sombong ketika hidup dalam kelimpahan. Daud memperingatkan, “Dalam kesenanganku aku berkata: Aku takkan goyah untuk selama-lamanya” (Mazmur 30:7).
Kasih yang murah hati bukan sekadar sikap memberi, melainkan cerminan iman yang berserah penuh kepada Tuhan. Ketika orang percaya hidup dalam syukur dan kerendahan hati, kemurahan Tuhan akan nyata dalam setiap musim kehidupan.
Karena itu, sebagaimana firman-Nya, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan” (Filipi 4:4), marilah menjalani hari ini dengan hati yang penuh syukur, percaya bahwa kasih dan kemurahan Tuhan menyertai umat-Nya sepanjang masa. Shalom. (A27)








Jadilah yang pertama berkomentar di sini