Maluku Tengah, Sinata.id – Terletak di kaki Gunung Binaiya, tepatnya di Desa Piliana, Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, destinasi wisata unik bernama Kali Jodoh menarik perhatian wisatawan.
Selain menawarkan kesegaran air pegunungan, tempat ini juga menyimpan mitos tentang kemudahan mendapatkan pasangan bagi pengunjungnya.
Untuk mencapai lokasi, wisatawan harus menempuh perjalanan darat sekitar dua jam atau 120 kilometer dari pusat Kota Masohi, kemudian menyusuri jalur hutan sepanjang 10 kilometer dengan jalan beraspal kasar dan menanjak.
Lelah perjalanan terbayar dengan tarif masuk yang terjangkau, yakni Rp10 ribu per orang. Wisatawan dapat menikmati kolam alami berdiameter 8 meter dengan kedalaman 1,25 meter. Suhu air yang sangat dingin menjadi daya tarik utama bagi pencinta alam.
Secara visual, permukaan air Kali Jodoh tampak biru keputihan, menyerupai uap panas. Keindahan warna ini muncul dari perpaduan air jernih dan gelembung udara yang keluar dari pori-pori batuan karang di dasar kolam.
Bagi mereka yang mendambakan pasangan, terdapat ritual sederhana yang diyakini warga setempat: membasuh wajah dengan niat tulus.
“Air ini diyakini membawa berkah. Jika datang dengan niat tulus, permohonan mendapatkan jodoh dipercaya akan terkabul,” ujar pengelola wisata Kali Jodoh, Antosius, kepada CNNIndonesia, Minggu (5/4/2026).
Selain mitos perjodohan, air kolam juga diklaim memiliki khasiat penyembuhan. Banyak wisatawan merasa tubuh lebih segar dan ringan setelah berendam, terutama bagi mereka yang lelah atau pegal setelah perjalanan jauh.
Sejarah Kali Jodoh
Dahulu, mata air ini dikenal dengan nama Ninivala, yang berarti hanyut. Kawasan ini dianggap keramat oleh penduduk lokal sebagai tempat bersemayamnya roh nenek moyang.
Nama “Kali Jodoh” melekat setelah tersiar kisah seorang pendeta perempuan yang menemukan jodohnya di tempat tersebut. Ritual mandi bersama seorang pria atas bimbingan tetua adat menghasilkan pernikahan yang sukses, dan sejak itu kolam dinamai Kali Jodoh.
Di tengah kolam kini tumbuh dua pohon besar berdampingan, yang disebut warga sebagai “pohon pasangan”, memperkuat identitas kolam sebagai air pembawa jodoh.
Popularitas Kali Jodoh meningkat sejak warga Piliana membuka jalur pendakian ke Gunung Binaiya pada 2007. Gunung Binaiya merupakan puncak tertinggi Kepulauan Maluku dengan ketinggian 3.027 meter di atas permukaan laut. Medan pendakian yang beragam, dari pantai hingga hutan sub-alpin, membuat hampir setiap pendaki singgah di Kali Jodoh untuk menyegarkan diri atau mengambil persediaan air.
Daya tarik Kali Jodoh tidak hanya memikat warga lokal, tetapi juga wisatawan dari kabupaten lain. Pasangan Amir dan Nur, yang datang dari Kabupaten Seram Bagian Timur, merasa terkesan dengan keasrian lokasi ini.
“Tempatnya bagus dan sangat menyenangkan. Kami bisa mandi sepuasnya dan mengabadikan momen di sini,” kata mereka.
Pengunjung lain, Emang Sopalatu, awalnya khawatir dengan suhu air yang dingin, namun kekhawatiran itu hilang setelah mencoba mandi di kolam.
“Badan terasa segar kembali setelah berenang. Airnya mantap, semoga membawa berkat,” paparnya. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini