Jakarta, Sinata.id – Harga emas global mengalami tekanan tajam di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Logam mulia yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) justru mencatat penurunan signifikan.
Mengutip MarketWatch, Sabtu (21/3/2026), kontrak emas paling aktif di Comex untuk pengiriman April 2026 ditutup melemah 0,7 persen atau turun 30,80 dolar AS ke level 4.574,90 dolar AS per troy ounce pada perdagangan Jumat (20/3/2026) waktu setempat.
Secara mingguan, harga emas tercatat anjlok sekitar 9,5 persen, menjadi penurunan terbesar sejak September 2011. Bahkan, dalam beberapa laporan lain, penurunan mingguan emas disebut sebagai yang terdalam sejak awal 1980-an.
Tekanan Makroekonomi dan Penguatan Dolar
Penurunan harga emas terjadi di tengah kombinasi tekanan makroekonomi global. Konflik di Timur Tengah memang meningkatkan ketidakpastian, namun faktor ekonomi justru lebih dominan memengaruhi pergerakan harga.
Head of Gold and Metals Strategy Global State Street Investment Management, Aakash Doshi, menilai emas kalah oleh kekuatan ekonomi yang lebih luas, terutama ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.
Salah satu faktor utama adalah potensi berakhirnya siklus penurunan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga ke depan. Kondisi ini membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik.
Selain itu, penguatan dolar AS turut menekan harga emas karena membuat logam mulia tersebut lebih mahal bagi investor global.
Aksi Jual dan Kebutuhan Likuiditas
Direktur riset BullionVault, Adrian Ash, menyebut penurunan harga emas juga dipicu oleh aksi jual investor untuk menutup kerugian di aset lain.
Dalam kondisi pasar yang bergejolak, investor cenderung melikuidasi aset yang masih memberikan keuntungan, termasuk emas. Apalagi, sebelumnya emas mencatat kenaikan tahunan yang kuat sehingga menjadi sumber likuiditas cepat.
Ash menjelaskan, tekanan juga datang dari margin call, peningkatan indikator risiko, serta perubahan ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga AS.
Sentimen Investor Melemah
Direktur strategi investasi US Bank Asset Management, Rob Haworth, menilai lemahnya prospek kenaikan harga emas turut menekan minat investor.
Kenaikan suku bunga meningkatkan biaya peluang karena investor beralih ke instrumen yang memberikan imbal hasil seperti obligasi. Hal ini membuat permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai menjadi berkurang.
Perak Ikut Tertekan
Tidak hanya emas, logam mulia lain seperti perak juga mengalami tekanan. Kontrak perak pengiriman Mei 2026 dilaporkan turun lebih dari 14 persen dalam sepekan dan ditutup di kisaran 69,66 dolar AS per troy ounce.
Lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah turut mendorong ekspektasi inflasi global. Hal ini membuat bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut memperkuat dolar AS dan meningkatkan imbal hasil obligasi, sehingga semakin menekan daya tarik emas.
Meski mengalami tekanan tajam dalam jangka pendek, sejumlah analis menilai emas masih memiliki peran sebagai aset lindung nilai dalam jangka panjang.
Faktor seperti risiko geopolitik, inflasi, dan ketidakpastian kebijakan moneter global dinilai tetap menjadi penopang harga emas ke depan, meskipun saat ini tertahan oleh kekuatan dolar AS dan kebijakan suku bunga tinggi. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini