Jakarta, Sinata.id — Perdagangan logam mulia dunia tumbang di tengah pekan ini, menjadikan harga emas jatuh kembali di bawah level psikologis US$5.000 per troy ons, ketika banyak pelaku pasar masih absen akibat libur Lunar New Year (Imlek) dan libur pasar di Amerika Serikat.
Sentimen bergejolak itu mencuat pada sesi perdagangan Selasa (17/2/2026), saat aktivitas di bursa global sangat terbatas karena kombinasi libur panjang dan kondisi pasar yang tipis. Akibatnya, harga emas spot mencatat pelemahan signifikan hingga 1,4%, menyusul penurunan 1% pada sesi sebelumnya, sebuah sinyal bahwa momentum pasar arah turun kembali kuat merambah logam mulia yang selama ini jadi aset aman.
Baca Juga: DKI Ketatkan Jam Diskotek Selama Ramadan, Pemprov Tekankan Hormati Ibadah
Gelombang Penjualan & Aksi Ambil Untung
Koreksi tajam ini tak lepas dari aksi ambil untung (profit-taking) oleh investor setelah reli harga sebelumnya. Pada akhir pekan lalu, harga emas sempat menguat didorong oleh data inflasi Amerika Serikat yang moderat dan memperkuat spekulasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve. Namun, sentimen positif itu tak bertahan karena struktur pasar yang sepi dan aksi jual lebih dominan.
Dalam catatan analis, kondisi pasar saat ini tengah sulit mencari katalis kuat, sehingga pergerakan harga kerap dipicu oleh faktor teknikal jangka pendek ketimbang sentimen fundamental yang berkelanjutan.
“Pasar masih berada dalam fase penyeimbangan antara pelaku bullish dan bearish, tanpa katalis yang jelas untuk menembus kisaran harga,” demikian komentar seorang analis strategi dari Pepperstone Group Ltd., Dilin Wu, yang mencerminkan dinamika perdagangan saat ini.
Tipisnya Likuiditas Pasar Asia & AS
Kondisi pasar yang “tipis” ini bukan tanpa alasan. Sebagian besar bursa di Asia, termasuk Hong Kong, Taiwan, dan Korea Selatan, masih tutup untuk merayakan Tahun Baru Imlek, sementara perdagangan AS juga libur pada awal pekan lalu karena Presidents’ Day. Kombinasi dua faktor libur besar ini menyebabkan jumlah pelaku pasar yang aktif menurun drastis, sehingga pergerakan harga menjadi lebih sensitif terhadap volume perdagangan yang rendah.
Volume yang menyusut ini membuat setiap tekanan jual lebih mudah mendorong harga turun, terutama ketika permintaan tradisional dari Asia, yang biasanya kuat selama periode Imlek, relatif minim. Dow Jones serta indeks dolar AS juga mengalami penguatan moderat, yang secara umum menekan permintaan emas sebagai aset aman karena menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Meski tertekan dalam jangka pendek, sejumlah bank dan analis masih mempertahankan pandangan bullish terhadap logam mulia dalam jangka menengah hingga panjang. Bank besar global seperti BNP Paribas, Deutsche Bank, dan Goldman Sachs bahkan memperkirakan emas berpotensi kembali menguat seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik, tekanan inflasi global, dan ekspektasi suku bunga rendah.
Namun, para pengamat pasar juga memperingatkan bahwa bertahan di bawah level US$5.000 terlalu lama justru bisa melemahkan minat pelaku bullish, sehingga risiko penurunan lebih jauh tetap menghantui. Ke depan, volatilitas diperkirakan tetap tinggi sampai likuiditas pasar kembali normal setelah Imlek usai. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini