Oleh :Ps Dion Panomban
Dalam rangkaian Saat Teduh Abba Home Family, tema yang diangkat adalah “Dunia Butuh Bapa.” Pesan ini menyoroti kebutuhan mendesak akan figur bapa, bukan hanya secara biologis, tetapi terutama secara rohani.
Pesan ini menegaskan bahwa gereja atau jemaat dipanggil untuk bertumbuh menjadi bapa-bapa rohani. Di tengah kondisi dunia yang semakin kehilangan arah, kehadiran figur bapa yang hidup dalam kasih, kebenaran, dan tanggung jawab menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar.
Namun, pertumbuhan menuju kedewasaan rohani bukan tanpa tantangan. Disampaikan bahwa Iblis memahami betul kebutuhan dunia akan figur bapa yang benar. Karena itu, berbagai cara dilakukan untuk merusak gambaran seorang bapa, antara lain melalui kehidupan yang tidak mencerminkan kasih sejati, sikap arogan, hingga kekerasan dalam rumah tangga. Akibatnya, anak-anak mengalami kesulitan mengenal Allah sebagai Bapa di Surga.
Baca juga:Tuhan Yesus Gembala Agung: Kasih yang Berkorban, Menuntun, dan Memulihkan Hidup Kita
Dasar Alkitab: Ibrani 12:4–11
Pembacaan Alkitab diambil dari Surat kepada Orang Ibrani 12:4–11, yang menekankan pentingnya disiplin sebagai bagian dari kasih Tuhan.
Dalam nas tersebut ditegaskan bahwa:
-Pergumulan melawan dosa adalah bagian dari perjalanan iman.
-Didikan Tuhan tidak boleh dianggap enteng.
-Tuhan menghajar dan menegur orang yang dikasihi-Nya.
-Disiplin adalah bukti bahwa seseorang diakui sebagai anak.
-Ganjaran memang terasa menyakitkan, tetapi menghasilkan buah kebenaran dan damai sejahtera.
Firman ini memperlihatkan bahwa proses menjadi bapa rohani yang benar harus melewati proses disiplin yang benar pula.

Pokok-Pokok Perenungan
Berikut beberapa pertanyaan reflektif yang menjadi bahan perenungan dalam saat teduh:
Baca juga:Makna Ulangan 27:26: Peringatan tentang Ketaatan pada Hukum Tuhan dan Refleksi Iman Umat Kristen
- Prinsip untuk Bertumbuh (Ayat 5) Prinsip utama adalah tidak menganggap enteng didikan Tuhan dan tidak menjadi putus asa ketika diperingatkan-Nya. Teguran Tuhan merupakan bentuk perhatian dan kasih, bukan penolakan.
- Tindakan Tuhan Saat Mengasihi (Ayat 6) Tuhan menghajar dan menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Disiplin ilahi adalah tanda hubungan yang hidup antara Bapa dan anak.
- Makna Ayat 7 Ayat ini menegaskan bahwa penderitaan atau ganjaran adalah bukti bahwa Allah memperlakukan kita sebagai anak. Tidak ada anak yang tidak pernah dididik oleh ayahnya.
- Respons terhadap Disiplin Secara manusiawi, disiplin sering menimbulkan dukacita. Namun respons yang benar adalah menerima dengan kerendahan hati, belajar darinya, dan membiarkan proses itu membentuk karakter.
- Mengapa Anak Tidak Lepas dari Disiplin? (Ayat 7–9) Karena disiplin adalah bagian dari identitas sebagai anak. Sebagaimana kita menghormati ayah jasmani yang mendidik kita, terlebih lagi kita harus taat kepada Bapa segala roh agar memperoleh kehidupan yang sejati.
Disiplin dan Buah Kebenaran
Ayat 11 menegaskan bahwa setiap ganjaran pada awalnya tidak mendatangkan sukacita, melainkan dukacita. Namun pada akhirnya, disiplin menghasilkan buah kebenaran dan damai bagi mereka yang dilatih olehnya.
Baca juga:Makna Perintah “Jangan Membunuh” dalam Terang Firman Tuhan
Dengan demikian, menjadi bapa rohani bukanlah proses instan. Ia dibentuk melalui koreksi, teguran, dan kesetiaan menjalani proses Tuhan. Dunia tidak hanya membutuhkan pemimpin, tetapi membutuhkan bapa figur yang matang, penuh kasih, dan telah dibentuk melalui disiplin ilahi.
Melalui pesan ini, jemaat diingatkan bahwa pertumbuhan menuju kedewasaan rohani menuntut kesediaan untuk dididik. Gambaran Allah sebagai Bapa akan semakin nyata ketika para pria dan pemimpin rohani hidup dalam kasih yang benar, bukan dalam arogansi atau kekerasan.
Disiplin bukan tanda penolakan, melainkan bukti kasih. Dunia memang membutuhkan bapa dan bapa sejati lahir dari hati yang rela dibentuk oleh tangan Tuhan. (A27)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini